Catatan Mas AAS

Mahasiswa Otentik

Reporter : -
Mahasiswa Otentik
Mahasiswi ITB Yadika Pasuruan

Semalam. Di dalam kelas kuliah kepemimpinan dengan pokok bahasan 'kepemimpinan otentik' di Kampus ITB Yadika Pasuruan berlangsung sangat semarak. Mahasiswa begitu antusias berbicara serta bertukar pikiran di dalam diskusi yang berlangsung di kelas.

Membicarakan pemimpin tentu saja menyoal perihal manusia. Sehingga membicarakan siapa yang bisa disebut manusia otentik tersebut. Manusia otentik adalah manusia yang bisa menyelaraskan kehidupan batin dengan penampilan lahiriahnya, itu pendapat pertama yang dilontarkan salah satu mahasiswa di dalam kelas. Selanjutnya ada juga mahasiswa kedua yang mengatakan bahwa manusia otentik adalah manusia yang terus menerus bisa membuat pilihan di dalam hidup kesehariannya! Kemudian ada mahasiswa ketiga yang berpendapat manusia otentik adalah manusia yang apa adanya tanpa topeng tanpa _jaim_ jaga image dalam setiap aktivitas yang dilakukan dimanapun dan kapanpun! Menarik bukan?

Baca Juga: Seorang Pemimpin Sejati bukanlah Pencari Konsesus: Ia Pembentuk Konsesus

Artinya, saat semalam para mahasiswa itu diberikan kebebasan berpikir. Mereka secara auto menjadi kreatif memanggil pengalaman empiris nya masing-masing dan mencoba mendefinisikan seiring persepsi dan perspektif mereka tentang manusia otentik. Bisa jadi definisi itu mereka temukan secara langsung, atau juga dari hasil memahami yang didapatkan melalui pengertian yang ada di dalam sebuah bacaan, entah sebuah artikel atau sebuah buku.

Dari situ lalu berkembang pembahasannya menjadi obrolan tentang seorang pemimpin yang otentik. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, otentik bisa diartikan dapat dipercaya, asli, tulen, sah. Beberapa ahli mengatakan di antaranya Walumba (2004) bahwa pemimpin yang otentik adalah pemimpin yang sangat sadar dengan dirinya baik dalam berpikir dan bertindak. Ahli lain seperti Bill George mengatakan bahwa pemimpin otentik adalah merasa yakin dengan dirinya sendiri, memiliki harapan, juga wawasannya luas. Lalu ahli yang sama juga menyebutkan perihal karakter yang melekat pada pemimpin yang otentik di antaranya: hati yang tulus, memiliki tujuan yang jelas, membangun hubungan yang harmonis dengan anak buah, memiliki tujuan dan disiplin diri yang kuat.

Secara konten itu, perihal pemimpin otentik yang menjadi perbincangan di dalam kelas semalam, dipaparkan dengan presentasi oleh salah satu kelompok yang bertugas yaitu kelompok 6.

Tibalah pada pertanyaan menarik yang diajukan oleh penulis kepada para mahasiswa. "Nah, Anda tentu sudah mendapat sedikit pemahaman soal definisi manusia dan pemimpin yang otentik. Lalu Anda sekarang saya berikan kebebasan untuk menilai keotentikan diri Anda masing-masing dengan skala penilaian 1-9 berapa nilai Anda? Di mana nilai 9 adalah tertinggi. Itu pertanyaan penulis!" Dan mahasiswa begitu sangat antusias untuk maju ke depan menjawab dengan menulis angka di papan tulis. Yang maju 9 mahasiswa. 1 mahasiswa menilai dirinya sendiri 7, 1 mahasiswa lagi menilai dirinya 6, 3 mahasiswa menilai dirinya 8, dan luar biasanya kalau tidak salah ada 4 mahasiswa yang dengan begitu percaya diri menilai dirinya masing-masing dengan angka paling tinggi 9. Antara percaya dan tidak, saya sebagai dosen di dalam kelas melihat fenomena tersebut sangat kagum dan bahagia. Setidaknya ada 4 mahasiswa yang bisa memposisikan dirinya dengan sikap yang terbaik. Ia percaya diri dengan dirinya sendiri begitu baik.

Baca Juga: Masjid yang Viral di Surabaya: Karena Melayani Kebutuhan Seluruh Umat

Tidak cukup di situ, saya penasaran ingin memberi tantangan berikutnya kepada para mahasiswa yang nilainya tinggi ada 7 mahasiswa: 3 mahasiswa yang nilainya 8 dan 4 mahasiswa yang nilainya 9. Tantangan selanjutnya adalah berbicara secara bebas di depan kelas tentang dirinya sendiri dan bagaimana ia memotivasi mahasiswa lainnya untuk melakukan hal yang sama macam dirinya. Ternyata hasilnya juga menurut penulis tidak begitu istimewa hingga perlu penulis dokumentasi kan dalam sebuah video, tiap-tiap mahasiswa dari Prodi Manajemen di Kampus ITB Yadika Pasuruan tersebut begitu sangat percaya diri berbicara di depan kelas! Sebagai dosen melihat fenomena semalam, bagaimana aksi sejumlah mahasiswa praktek menjadi manusia otentik untuk dirinya sendiri dengan cara berbicara menyampaikan pikiran nya di depan kelas sungguh luar biasa. Di luar dugaan penulis, mereka memiliki sikap yang sedemikian positif tentang dirinya sendiri! Dan ini adalah modal begitu penting agar mereka kelak di kemudian hari bisa menjadi *pemimpin bangsa* yang otentik, aamiin!

Itulah cerita kecil perihal *mahasiswa otentik* yang semalam telah diperlihatkan sedemikian terang benderang oleh para mahasiswa di Kampus ITB Yadika Pasuruan. Penulis sedikit *berimajinasi* mengapa semalam para mahasiswa di kelas begitu sangat percaya diri menilai keotentikan dirinya masing-masing. Boleh jadi karena tertular oleh spirit dan kepercayaan diri dari para pemain TIMNAS-23 yang *otentik* habis, tidak saja karakter pada diri setiap pemain, namun juga ritme permainan _tiki taka_ umpan-umpan pendek yang sepertinya diadopsi oleh pelatih untuk timnas! Boleh kan berimajinasi begitu bukan maksud penulis untuk main *otak atik gathuk* semata, upps! Saat menyulam aksara pada tulisan ini.

Namun, sebagai sebuah fakta. Tidak saja saat menjadi *mahasiswa* harus otentik saat menimba ilmu dan kuliah di Kampus ITB Yadika Pasuruan. Juga ketika menjadi tunas-tunas muda bagi negeri tercinta Indonesia. Malu-maluin *Mas AAS* apabila kalian kuliah di sini mentalnya: lembek, pesimis, dan tidak optimis menatap masa depan. Mending Anda kuliah di kampus lainnya saja!

Baca Juga: Hargai Semua yang Anda Miliki

Tugas selanjutnya adalah semoga mereka para mahasiswa dari Kampus ITB Yadika Pasuruan semalam, bisa terus bertekun untuk menempa kelebihan yang melekat di dalam dirinya masing-masing, sehingga secara auto kelemahannya akan berkurang bahkan sirna dengan sendirinya. Dan siap menjadi duta *kebajikan* teruntuk semesta di masa depan di dalam hidupnya kelak!


AAS, 26 April 2024
Warkop Langganan Rungkut Surabaya

Editor : Nasirudin