Gamelan Kyai Samudro Tampil Memukau Saat Ruwatan Bumi Jember

Reporter : -
Gamelan Kyai Samudro Tampil Memukau Saat Ruwatan Bumi Jember
Keterangan Gambar: Gamelan Kyai Samudro saat mengisi acara Ruwatan Bumi Jember

Jember _ Jatimupdate.id_ Gamelan Kyai Samudro, tampil memukau saat Ruwatan Bumi Jember dan Doa Bersama Lintas Etnis, di Jalan Sudarman Alun Alun Jember, pada Minggu (7/7/2024).

Hadir dalam Acara itu, diantaranya Bupati Jember Ir H Hendy Siswanto ST IPU ASEAN Eng beserta istri, Ny Hj Kasih Fajarini beserta Jajaran OPD, Forkopimda Jember dan Undangan lainnya.

Ruwatan Bumi Jember dan Doa Bersama Lintas Etnis adalah agenda yang diselenggarakan oleh Forum Pembauran Kebangsaan Kabupaten Jember, yang disokong sepenuhnya oleh banyak elemen masyarakat Jember.

Prosesi Ruwatan dimulai sejak Pukul 13.00 WIB, hingga berahir pada Pukul 22.00 WIB, yang dimeriahkan oleh para budayawan Kabupaten Jember, diantaranya Pecut Sodo Lanang, Jaranan Padang Pasir, Ta' Buthaan dan kesenian tradisional lainnya.

Tampak, Ruwatan itu mendapatkan perhatian masyarakat luas, sehingga kehadiran peserta dan penonton, tak beranjak, sejak prosesi digelar hingga acara berakhir.

Sedangkan Gamelan Kyai Samudro, adalah sebuah Grup Musik Tradisional Jawa, yang berada di Desa Biting Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember, yang diaransemen ulang, sehingga lebih terdengar menarik dan unik.

Tembang yang dibawakannya, diantaranya Alal Kahfi, Wis Wayahe, Pepeling dan masih banyak hasil aransemennya, yang menunjukkan bahwa grup musik tradisional ini memang menunjukkan sebagai musik religi bernafaskan Islam.

Abdul Rasyid atau akrab Cak Sid, sebagai pengasuh Gamelan Kyai Samudro, menjelaskan bahwa makna Samudro adalah Sami Muji Dumateng Rosul.

"Gamelan Kyai Samudro ini adalah musik tradisi asli Jember, yang digali dari khasanah khas Jember," ujar Cak Sid.

Cak Sid menjelaskan gagasannya bermula dari keinginan agar nuansa tradisi Jawa tidak menjadi ke arab araban. 

"Sebagai orang Nusantara, Kita punya kepribadian sendiri, jangan sampai kehilangan kepribadian," ujar Cak Sid.

Untuk itu, hanya berbekal semangat, dengan hanya memiliki seperangkat musik gamelan, meski terlihat sudah usang, namun Gamelan Kyai Samudro masih mampu menunjukkan gregetnya.

"Ya beginilah, kita berbuat sebisanya saja, yang penting bisa diterima dikalangan masyarakat Jember khususnya," ujarnya.

Menurut Cak Sid, perlahan lahan kini Gamelan Kyai Samudro sudah bisa dipahami oleh kalangan Nahdhiyin, sebagai bagian dari upaya syiar.

"Sudah beberapa kali Gamelan Kyai Samudro tampil di kalangan pesantren, bahkan kami sudah mendapatkan restu dari beberapa Kyai Sepuh," tegasnya.

Keterlibatannya dalam Ruwatan Bumi Jember dan Doa Bersama Lintas Etnis, menurut Cak Sid, juga merupakan bagian memperkenalkan kembali tradisi leluhur asli Jember, yang mungkin selama ini mulai ditinggalkan.

"Seperti Sanggar Agung yang kami buat, itu tidak ada dimanapun, saya kira ini hanya ada di Jember," ucapnya.

Prosesi Ruwatan Bumi Jember, menurut Cak Sid, juga mencerminkan kepribadian kebudayaan asli Jember, mulai dari cara berdoa hingga ubo rampe (piranti Ruwatan), yang harus disediakan.

"Nada nada Doa yang kami sampaikan dalam bentuk tembang, juga bernuansa khas Jember," ujarnya.

Untuk itu, Cak Sid berharap bahwa Tradisi Bumi Jember itu akan terus menjadi agenda tahunan Kabupaten Jember.

"Sehingga kita tidak kehilangan nilai nilai budaya yang adiluhung," tandasnya. (MR)

Editor : Miftahul Rachman