Selat Taiwan, Ketika Perang Menjadi Terlalu Mahal untuk Dimenangkan

Reporter : Redaksi
Agus Trihartono.

 

Oleh: Agus Trihartono.

Baca juga: Wisuda Udayana: Shinta Rella Raih Lulusan Terbaik, Sang Ayah Feri Is Mirza Sampaikan Pesan Haru

Dosen Hubungan internasional Universitas Jember; Rektor UI Cordoba, Banyuwangi.

 

Banyuwangi, JatimUPdate.id - Barangkali perang hari ini bukan lagi soal siapa yang berani memulai. Ia perlahan berubah menjadi siapa yang sanggup menanggung akibatnya.

Dalam beberapa hari terakhir, lanskap Asia Timur memperlihatkan arah yang semakin tegang.

Ketika Timur Tengah kembali membara dan Amerika Serikat (AS) terlibat jauh di dalamnya, perhatian dan energi strategis AS ikut tersedot. Fokus yang selama ini menopang keseimbangan geopolitik Asia Timur menjadi tidak lagi sepenuhnya utuh.

Di saat yang sama, pergerakan militer Tiongkok di sekitar Selat Taiwan meningkat signifikan. Pesawat tempur melintas hampir setiap hari, kapal perang bergerak dalam pola semakin rapat. Dari kejauhan, semuanya membentuk gambaran yang sulit diabaikan. Sebuah pulau perlahan didekati dari segala arah.

Taiwan tampak seperti berada dalam lingkar yang kian mengencang. Bukan dalam bentuk invasi terbuka, tetapi dalam tekanan yang terus-menerus dari Tiongkok. Sebuah situasi di mana perang belum (tentu) terjadi. Namun bayangannya terasa semakin dekat.

Konflik antara Tiongkok dan Taiwan sendiri bukanlah cerita baru. Ia berakar sejak 1949, ketika perang saudara Tiongkok berakhir dan melahirkan dua realitas politik yang berbeda. 

Bagi Beijing, Taiwan adalah provinsi yang belum kembali, sebuah urusan sejarah yang tertunda. 

Sementara bagi Taiwan, negeri ini telah berkembang sebagai entitas politik yang berbeda, dengan sistem demokrasi, identitas, dan arah yang tidak lagi sama. 

Di antara dua klaim itu, ketegangan tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berubah bentuk, dari waktu ke waktu.

Di atas fondasi konflik itulah AS hadir sebagai penyeimbang. Selama puluhan tahun, AS menjadi penyangga utama payung keamanan Asia Timur. Melalui aliansi dengan Jepang dan Korea Selatan, serta komitmen terhadap Taiwan, AS berfungsi sebagai kekuatan yang menjaga agar konflik tidak menjadi perang terbuka. 

Namun kini, keseimbangan itu mulai bergeser di Asia Timur. Bukan karena AS menghilang, tetapi karena perhatiannya banyak ke Timur Tengah.

Di celah itulah Tiongkok bergerak.

Pergerakan militer Tiongkok tidak hadir dalam bentuk serangan yang terburu-buru. Ia datang sebagai tekanan yang perlahan namun konsisten.

Pesawat tempur masuk dari utara, lalu dari selatan. Kapal perang mengitari pulau dalam pola yang semakin teratur. Jika dilihat dari kejauhan, pola itu membentuk “kepungan” yang tidak diumumkan, tetapi terasa. Taiwan tidak diserang, tetapi diposisikan dalam tekanan yang terus meningkat.

Ini belum menjadi sebuah invasi. Ini adalah pesan.

Dalam studi keamanan, situasi ini dikenal sebagai coercive signaling, penggunaan kekuatan untuk mempengaruhi tanpa benar-benar menggunakannya. 

Setiap manuver menjadi semacam kalimat. Setiap patroli adalah tekanan. Dan setiap pergerakan adalah cara untuk membaca respons lawan.

Jika dilihat melalui lensa realisme klasik, sebuah perspektif yang memandang dunia sebagai arena perebutan kekuasaan demi survival negara, konflik selat Taiwan terasa hampir tak terelakkan.

Dalam logika ini, Tiongkok sewaktu-waktu menyerang Taiwan bukanlah isapan jempol. Ia adalah kemungkinan yang selalu terbuka. Perang bukan mustahil.

Baca juga: Pak Umaidi Radi dalam Obituari

Namun, ada catatan yang tidak boleh diabaikan, dunia hari ini tidak sepenuhnya tunduk pada logika realisme tersebut.

Ada dua dimensi lain yang membuat situasi Taiwan jauh lebih kompleks, yakni, pertama, masyarakat di Taiwan. 

Taiwan bukan sekadar wilayah di peta. Ia adalah masyarakat dengan identitas yang terus berkembang. Dalam beberapa dekade terakhir, semakin banyak warga Taiwan tidak lagi mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari Tiongkok daratan.

Mereka hidup dalam sistem demokrasi, menikmati kebebasan sipil, dan membangun pengalaman politik berbeda. Di situasi ini, integrasi bukan lagi sekadar soal seberapa besar kekuatan militer digelar atau seberapa canggih diplomasi dimainkan, tetapi soal penerimaan. Dan justru di titik itu jaraknya semakin melebar dan semakin sulit bertemu.

Selain itu, kedua, dunia juga telah berubah secara struktural. Robert Keohane dan Joseph Nye menyebut perubahan ini sebagai complex interdependence, sebuah kondisi di mana negara-negara terhubung dalam jaringan ekonomi dan teknologi yang rapat.

Perdagangan, investasi, dan rantai pasok global menciptakan ketergantungan yang sulit diputus. Dalam dunia seperti ini, kekuatan militer tidak lagi bisa berdiri sendiri.

Taiwan berada tepat di tengah jaringan tersebut. Di pulau ini, chip-chip kecil diproduksi, sesuatu yang hampir tak terlihat, tetapi menggerakkan dunia. Dari ponsel hingga kecerdasan buatan, dari industri otomotif hingga sistem pertahanan, semuanya bergantung pada produksi semikonduktor yang lahir dari sana.

Karenanya, Taiwan bukan sekadar wilayah strategis. Ia adalah salah satu simpul sistem global yang sedang saling tergantung. Di titik inilah perang terhadap Taiwan mulai kehilangan kesederhanaannya.

Melakukan invasi ke Taiwan, menurut hemat penulis, bukan semata soal menaklukkan wilayah. Ia berarti juga dapat memutus “aliran” yang juga menopang pihak yang menyerang. Rantai pasok bisa terganggu, industri melemah, bahkan ekonomi bisa bergetar serius. Bahkan bagi Tiongkok, kemenangan seperti itu akan datang dengan biaya yang sulit dihitung.

Dalam realitas dunia yang saling terhubung ini, menyerang lawan sering kali juga berarti melukai diri sendiri.

Mungkin metafora yang paling tepat bukan lagi medan perang, tetapi akar. Akar yang menjalar diam-diam di bawah tanah. Taiwan adalah salah satu simpulnya. Jika satu akar dicabut, yang lain mungkin masih bertahan, tetapi tanahnya sudah retak.

Baca juga: Tanggapi Peringatan Menlu China ke ASEAN, LaNyalla: Sebaiknya Instrospeksi Soal Laut China Selatan

Di dalam retakan itu, tidak ada yang benar-benar aman. Paradoks inilah yang kini bekerja.

Di permukaan, kita melihat kekuatan militer bergerak, pesawat, kapal, radar, dan pernyataan keras. Namun di bawahnya, ada jaringan yang menahan semuanya agar tidak runtuh. Ketegangan meningkat, tetapi perang tertahan. Militer berbicara keras, namun ekonomi membisikkan batas.

Dunia berjalan di garis tipis antara dorongan untuk bertindak dan kebutuhan untuk menahan diri.

Apa yang terjadi hari ini bisa jadi bukanlah jalan menuju perang besar. Ia lebih menyerupai ketegangan yang dipelihara.

Sebuah ruang abu-abu, grey-zone warfare, di mana tekanan terus diberikan tanpa benar-benar melampaui titik yang tak bisa kembali.

Stabilitas tetap ada, tetapi ia rapuh. Ia bertahan bukan karena konflik tidak ada, tetapi karena biaya konflik terlalu besar untuk dibayar. Dan mungkin di situlah rasionalitas itu masih bekerja, diam-diam.

Negara boleh bersaing, menekan, bahkan mengancam. Tetapi mereka juga berhitung. Dalam perhitungan itu, perang di Taiwan semakin tampak sebagai sesuatu yang terlalu mahal untuk dimenangkan.

Bagi Tiongkok, kemenangan militer mungkin bisa dicapai. Namun kemenangan politik, ekonomi, dan sosial, adalah cerita yang bisa sama sekali berbeda.

Pada akhirnya, ini bukan hanya tentang Taiwan. Ia adalah cermin tentang bagaimana dunia telah berubah. Kekuasaan tidak lagi sekadar kemampuan untuk menghancurkan, tetapi juga kemampuan untuk menahan kehancuran.

Ketika dunia semakin terhubung, kemenangan tidak selalu berarti menguasai. Kadang, ia justru berarti memilih untuk tidak melangkah lebih jauh.

Karena Taiwan, pada akhirnya, bukan sekadar “medan konflik”. Ia adalah juga salah satu simpul dunia. Jika simpul itu putus, yang jatuh bukan hanya satu pihak, melainkan seluruh jaringan yang selama ini kita anggap kokoh. (red)

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru