Lebaran 2026: Euforia yang Meredup

Reporter : Yuris. T. Hidayat
Hadi Prasetyo, Pengamat Sosial Politik

Oleh: Hadipras

JatimUPdate.id - Musim mudik Lebaran selalu menjadi cermin paling jujur bagi ekonomi Indonesia. Lebih dari sekedar tradisi, ia adalah momen redistribusi pendapatan dari kota ke desa, penggerak utama konsumsi rumah tangga, dan barometer optimisme kolektif. Namun di tahun 2026, cermin itu mulai buram.

Baca juga: Selama Ini Kita yang Di-Bodoh-i?

Di balik klaim pemerintah tentang pertumbuhan ekonomi yang "resilien" dan program Belanja di Indonesia Aja (BINA) senilai Rp53 triliun, data lapangan menunjukkan potret kontras: jumlah pemudik diprediksi turun menjadi 143,9 juta orang, omzet pedagang pasar anjlok hingga 50 persen, dan yang paling mengkhawatirkan kelas menengah kita sedang sekarat.

Penurunan jumlah pemudik sebesar 1,75 persen mungkin tampak kecil di atas kertas Excel para birokrat. Namun, realitasnya jauh lebih kelam. Survei Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen merosot ke angka 125,2 pada Februari 2026.

Masyarakat tidak sekedar berhemat; mereka sedang memasuki mode bertahan hidup (survival mode). Kisah Okie dari Depok yang suaminya terkena PHK, atau Ratna di Bekasi yang membatalkan mudik demi biaya pendidikan, adalah fragmen dari jutaan keluarga yang kini lebih memilih memeluk tabungan daripada memaksakan pulang kampung.

Laporan Mandiri Institute mempertegas horor ini: kelas menengah Indonesia menyusut lagi 1,1 juta orang hanya dalam setahun. Ketika mesin utama konsumsi domestik ini kehilangan tenaga, denyut ekonomi pun melemah. Di pusat grosir seperti Tanah Abang dan Cipulir, fenomena "banyak lalu-lalang tapi jarang belanja" menjadi pemandangan lazim. Toko yang biasanya meraup Rp50 juta per hari kini harus puas dengan separuhnya.

Ekonom Wijayanto Samirin dari Universitas Paramadina menjelaskan bahwa masyarakat kini bersikap sangat rasional menghadapi masa depan yang suram. Gaji yang stagnan beradu dengan inflasi pangan dan ketidakpastian kerja. Esther Sri Astuti dari INDEF menambahkan bahwa fundamental ekonomi kita terlalu rapuh dan bergantung pada faktor eksternal, membuat daya beli mudah rontok saat gejolak global menghantam.

Baca juga: 'Pekerjaan Jelas' yang Tak Jelas: Atur Urbanisasi Jangan Langgar Hak Warga

Pemerintah merespons kelesuan ini dengan stimulus kosmetik: diskon tiket transportasi hingga program BINA. Namun, ini hanyalah obat pereda nyeri (palliative) untuk penyakit struktural.

Insentif jangka pendek tidak akan mampu menambal lubang di kantong rakyat selama lapangan kerja produktif tidak tersedia dan harga kebutuhan pokok terus meroket.

Di sinilah letak ironi terbesar. Di menara gading kekuasaan, narasi post-truth sedang dirayakan dengan meriah. Kita dipaksa percaya pada angka-angka pertumbuhan yang molek, sementara di gang-gang sempit, rakyat sedang menghitung sisa beras. Pemerintah tampak begitu asyik dengan "estetika statistik" hingga lupa bahwa ekonomi bukan sekedar deretan angka di layar presentasi, melainkan piring nasi di meja makan.

Program BINA yang digadang-gadang sebagai penyelamat justru tampak seperti lelucon pahit. Bagaimana mungkin rakyat diminta belanja gila-gilaan saat mereka sendiri bingung apakah besok masih memiliki pekerjaan? Tampaknya, bagi penguasa, realitas adalah apa yang mereka tulis di rilis pers, bukan apa yang dirasakan pedagang takjil yang dagangannya sepi peminat.

Baca juga: Masak Bareng Gubernur, Kadindik Jatim Sapu Bersih 4 Juara Lewat Bandeng Parape

Jika kelas menengah terus diperas dan daya beli dibiarkan mati suri, maka Lebaran 2026 bukan lagi perayaan kemenangan, melainkan upacara pemakaman bagi kontrak sosialbterhadap negara. Kita sedang menyaksikan sebuah anomali: negara yang merasa kaya di tengah rakyat yang mendadak miskin.

Mungkin benar kata seorang pedagang tua di Tanah Abang: "Pemerintah silakan saja terus berpidato tentang ekonomi yang meroket, tapi tolong jangan heran jika rakyat lebih memilih mudik lewat YouTube." Sebab, di era di mana kebenaran hanya milik pemegang stempel, rakyat kecil memiliki satu kejujuran yang tersisa: dompet yang kosong tak pernah bisa berbohong meski dipaksa oleh narasi seindah apa pun. 

Selamat Lebaran, selamat merayakan statistik di tengah piring yang sunyi. (*)

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru