catatan tangan kanan wiedmust-250326
Simpen Aja di Mama (Edisi: Dana Abadi yang Tidak Pernah Kembali)
Oleh widodo, p.hd.
pengamat keruwetan sosial
Surabaya, JatimUPdate.id - Lebaran itu bukan cuma soal ketupat, opor, dan maaf-maafan. Ada satu momen sakral yang sering luput dari kajian budaya: perpindahan kekuasaan atas uang anak.
Awalnya damai. Anak-anak keliling, salim, senyum paling manis, lalu pulang dengan kantong menggembung. Mata berbinar. Masa depan terasa cerah. Rencana mulai tersusun: beli mainan, beli jajan, atau minimal flex tipis-tipis ke teman.
Lalu datanglah kalimat yang tidak pernah gagal:
"Simpen aja di Mama.”
Kalimat pendek. Sederhana. Tapi efeknya langsung mengubah arah sejarah keuangan seorang anak.
Biasanya disertai paket lengkap: “Biar aman.” “Nanti Mama tabungin.” “Kalau kamu pegang, pasti habis.”
Di titik ini, anak mulai goyah. Logika orang tua terdengar ilmiah. Data pengalaman masa lalu juga tidak mendukung: benar juga, kemarin uang receh saja bisa habis buat cilok dan es mambo.
Akhirnya, dengan iman setipis tisu, uang itu diserahkan.
Dan sejak saat itu… statusnya berubah.
Dari “uang milik sendiri” menjadi “uang yang keberadaannya dipercayai secara spiritual.”
Hari pertama, masih tenang. Hari kedua, mulai kepikiran. Hari ketiga, muncul pertanyaan kecil.
"Mama, uangku kemarin disimpen di mana?”
Jawaban selalu tenang, stabil, penuh wibawa: “Ada. Aman.”
Tidak pernah dijelaskan di mana. Tidak pernah ditunjukkan bentuknya. Seolah-olah uang itu naik level menjadi makhluk gaib. Ada, tapi tidak bisa diakses sembarangan.
Lalu anak mencoba naik satu level: “Boleh ambil sedikit nggak?”
Dan di sinilah plot twist dimulai.
"Buat apa?”
Pertanyaan sederhana, tapi berat. Anak harus presentasi proposal penggunaan dana. Harus jelas tujuan, manfaat, dan dampak sosialnya.
Kalau jawabannya “buat jajan,” langsung ditolak halus: “Nggak penting.”
Kalau jawabannya “buat mainan,” langsung kena veto: “Udah punya.”
Kalau jawabannya “nggak tahu, pengen aja,” sidang langsung ditutup.
Akhirnya anak sadar, uang itu memang ada… tapi bukan lagi miliknya.
Puncaknya terjadi beberapa minggu kemudian.
Dengan keberanian penuh, anak kembali bertanya: “Mama, uang lebaranku dulu mana?”
Dan seperti naskah yang sudah diwariskan turun-temurun, jawaban legendaris pun keluar:
"Udah kepake buat kamu juga.”
Kalimat ini kuat. Tidak bisa dibantah. Mengandung filosofi dalam. Sekaligus mengakhiri semua harapan.
Anak terdiam. Otak mencoba memproses. Hati mencoba menerima. Tapi tetap ada satu pertanyaan kecil yang menggantung:
“Kapan kepakenya?”
Tidak ada bukti. Tidak ada laporan keuangan. Tidak ada struk. Tapi entah kenapa, semua terasa sah.
Dan yang paling ajaib, tahun depan… anak tetap percaya lagi.
Amplop tetap diserahkan. Harapan tetap dititipkan. Dan kalimat itu tetap hidup, lintas generasi:
“Simpen aja di Mama.”
Mungkin ini bukan sekadar kebiasaan. Ini sistem. Ini tradisi. Ini semacam dana abadi keluarga… yang kontribusinya dari anak, tapi pengelolaannya… ya, kita semua tahu.
Selamat lebaran. Semoga uangmu aman. Atau setidaknya… kamu masih ingat jumlahnya.
catatan tangan kanan
wiedmust-250326
Editor : Redaksi