Transformasi K3 di Era Hybrid Working Jadi Sorotan

Keselamatan Masa Depan Menjaga Sistem Kerja, Bukan Sekadar Tempat Kerja

avatar Ibrahim
  • URL berhasil dicopy
Edi Priyanto (berbakat hijau)
Edi Priyanto (berbakat hijau)

 

Surabaya, JatimUPdate.id — Dunia kerja sedang mengalami perubahan besar. Jika dahulu pekerjaan identik dengan kantor sebagai ruangan tempat kerja, kini aktivitas kerja dapat dilakukan dari mana saja dari rumah, kafe, perjalanan kendaraan, bahkan dari layar kecil yang terus terhubung tanpa jeda waktu.

Di balik fleksibilitas tersebut, muncul tantangan baru yang perlahan mengubah wajah keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Risiko kerja modern kini tidak lagi hanya berbentuk kecelakaan fisik yang terlihat, tetapi juga tekanan psikososial, digital fatigue, burnout, hingga budaya kerja yang membuat pekerja terus “online” tanpa batas.

Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam kegiatan Safety Insight yang diselenggarakan Balai K3 Surabaya bertema “WFH, Hybrid Working & Masa Depan K3: Dari Workplace Safety menuju Work System Safety” pada Jumat (8/5/2026) secara daring melalui Zoom dan YouTube.

Kegiatan dibuka oleh Muchamad Yusuf selaku Direktur Bina Pengujian K3 Kementerian Ketenagakerjaan RI dan dipandu Prihatmoko sebagai Penguji Ahli Muda Balai K3 Surabaya.

Narasumber utama menghadirkan Wakil Ketua Dewan K3 Provinsi Jawa Timur, Edi Priyanto.

Dalam opening speech-nya, Muchamad Yusuf menegaskan bahwa transformasi dunia kerja harus diikuti dengan transformasi cara pandang terhadap K3.

Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi ketenagakerjaan saat ini yang semakin terdigitalisasi dan fleksibel.

“Perkembangan teknologi, digitalisasi, dan pola kerja hybrid menghadirkan tantangan baru yang membutuhkan pendekatan keselamatan kerja yang lebih adaptif, kolaboratif, dan humanis,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa K3 masa kini tidak lagi cukup hanya berbicara mengenai kepatuhan dan perlindungan fisik di tempat kerja.

Organisasi harus mulai memperhatikan aspek kesehatan mental, psikososial, serta kualitas hidup pekerja sebagai bagian dari sistem keselamatan modern.

“K3 harus menjadi budaya kerja sehari-hari, bukan sekadar formalitas administratif,” tegasnya.

Sementara itu, dalam paparannya, Edi Priyanto menyampaikan bahwa dunia kerja modern telah memasuki fase baru, di mana risiko kerja justru banyak hadir dalam bentuk yang tidak kasat mata.

“Dulu kita tahu dengan jelas tempat kerja itu. Risikonya bisa diidentifikasi, dikontrol, dan diaudit. Hari ini tempat kerja bisa di mana saja, bahkan di rumah atau di atas kasur. Pertanyaannya, apakah sistem K3 kita ikut berpindah atau justru tertinggal?” ungkap Edi.

Menurutnya, tantangan terbesar K3 saat ini bukan lagi sekadar kecelakaan fisik, melainkan risiko tersembunyi yang bersifat kumulatif.

Mulai dari ergonomi kerja yang buruk, tekanan psikososial, pola kerja tanpa batas, hingga kelelahan digital yang perlahan menggerus kesehatan dan produktivitas pekerja.

Ia menyoroti fenomena always on culture yang kini banyak dialami pekerja modern. Secara fisik pekerja tampak baik-baik saja, tetap hadir dalam rapat virtual, aktif di grup pekerjaan, dan menyelesaikan target.

Namun di balik itu, banyak yang mengalami kelelahan mental karena terus terkoneksi dengan pekerjaan tanpa jeda.

“Kondisi ini jika dibiarkan dapat meningkatkan human error, menurunkan kualitas pengambilan keputusan, bahkan memicu incident operasional,” jelasnya.

Dalam forum tersebut, Edi menekankan pentingnya perubahan paradigma dari workplace safety menuju work system safety.

Menurutnya, keselamatan kerja masa depan tidak lagi hanya bergantung pada lokasi kerja, tetapi sangat dipengaruhi oleh sistem kerja, budaya organisasi, pola komunikasi, kualitas kepemimpinan, hingga pengelolaan beban kerja.

“Keselamatan masa depan bukan hanya tentang melindungi tubuh pekerja, tetapi juga menjaga kesehatan mental, kualitas hidup, dan keberlanjutan performa bisnis,” tegasnya.

Sebagai langkah strategis, perusahaan didorong mulai membangun kebijakan right to disconnect, monitoring beban kerja, virtual ergonomic coaching, program kesehatan mental, hingga penerapan no meeting day untuk mengurangi beban kognitif pekerja.

Selain itu, peran pimpinan dinilai juga harus berubah. Leader tidak lagi sekadar menjadi pengawas pekerjaan, tetapi harus mampu menjadi system designer yang menjaga ritme kerja tim, membangun psychological safety, mendeteksi fatigue lebih dini, serta menjaga batas digital yang sehat bagi pekerja.

Dalam paparannya, Edi juga menampilkan sejumlah benchmark global dari perusahaan-perusahaan teknologi dunia yang mulai menjadikan wellbeing dan psychological safety sebagai fondasi organisasi berkinerja tinggi.

Bahkan, burnout kini telah diklasifikasikan sebagai occupational phenomenon dalam dunia kerja modern.

Melalui kegiatan ini, Balai K3 Surabaya berharap muncul kesadaran baru bahwa K3 bukan lagi sekadar isu compliance dan administratif, melainkan bagian penting dari strategi keberlanjutan bisnis di era digital dan hybrid working.

“Jika sesuatu tidak diukur maka tidak terlihat. Jika tidak terlihat maka tidak dapat dikelola. Karena itu organisasi harus mulai membangun sistem kerja yang sehat, aman, dan manusiawi,” pungkas Edi Priyanto. (roy/yh)