Pamekasan, JatimUPdate.id — Pernahkah Anda mendengar tentang "Tellasan Katopak" atau Tellasan Pettho'? Tradisi unik dari masyarakat Madura ini menjadi penanda berakhirnya puasa sunnah di bulan Syawal, tepatnya pada hari ketujuh setelah Lebaran Idul Fitri.
Baca juga: Tellesen Katopak: Ritualisasi Kemenangan Spiritual dan Penguatan Motivasi Religius
Di balik ritual yang sederhana ini tersimpan makna sosial yang mendalam, menguatkan ikatan antarwarga sekaligus melestarikan warisan budaya turun-temurun.
"Tellasan Katopak" merupakan tradisi di mana masyarakat saling bertukar makanan, khususnya olahan ketupat, kepada tetangga dan kerabat sekitar pada hari ketujuh setelah Lebaran.
Menurut Zaini Amla, tokoh pemuda setempat, tradisi ini sudah berlangsung lama dan menjadi simpul sosial yang mengikat komunitas Madura.
“Biasanya perayaan "Tellasan Katopak" dilaksanakan tujuh hari setelah Idul Fitri,” jelas Zaini pada Sabtu (28/3/2029).
Selain bertukar makanan, masyarakat biasa berkumpul untuk menggelar doa bersama di masjid, surau, atau tempat pemakaman, memperkuat tali silaturahmi antar keluarga, saudara, dan tetangga.
Bagi perantau Madura yang tidak sempat merayakan Idul Fitri bersama keluarga, momen "Tellasan Katopak" menjadi kesempatan untuk berkumpul dan merayakan bersama.
Fadil Hidayat, salah satu warga, menyebutkan bahwa tradisi ini kerap menjadi puncak mudik dan ajang memperbaharui hubungan melalui salam dan maaf.
“Bagi perantau yang tidak sempat merayakan bersama keluarga saat Idul Fitri, mereka akan bergabung pada "Tellasan Pettho’,” ungkap Fadil.
Di banyak kesempatan, tradisi ini juga menjadi ruang penyelesaian ketegangan yang mungkin terjadi sepanjang tahun, menjadikan "Tellasan Katopak" bukan hanya soal makanan, tetapi juga rekonsiliasi sosial.
Secara historis, tradisi Lebaran Ketupat ini diperkenalkan oleh Wali Songo pada abad ke-15 Masehi.
Tokoh-tokoh seperti Sayyid Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), Sunan Paddusan, dan Pangeran Katandur membawa dan mengembangkan tradisi ini hingga menjadi budaya khas Madura.
Baca juga: Simpen Aja di Mama (Edisi: Dana Abadi yang Tidak Pernah Kembali)
Menurut Mahbub, seorang warga yang hadir dalam perayaan, Lebaran Ketupat adalah ungkapan syukur atas kekuatan menjalankan puasa sunnah Syawal selama enam hari, dari tanggal 2 hingga 7 Syawal.
Di Madura, istilah Tellasan Pettho’ dan Tellasan Topak digunakan bergantian.
Tellasan Pettho’ merujuk pada pelaksanaan di hari ketujuh pascapuasa Syawal, sedangkan Tellasan Topak menyoroti hidangan ketupat yang berbentuk persegi empat dari anyaman daun kelapa.
Lebih dari sekadar tradisi kuliner, Tellasan Katopak (Tellasan Pettho') merupakan manifestasi nyata dari teori Solidaritas Mekanik Émile Durkheim yang menekankan keterikatan sosial melalui nilai dan ritual bersama.
Masyarakat Madura menunjukkan solidaritas melalui tindakan timbal balik (resiprositas), seperti mengantarkan ketupat lengkap dengan opor ayam atau sayur lodeh ke tetangga, kerabat, dan tokoh masyarakat seperti Kiai.
Tindakan ini menghapus sementara sekat ekonomi dan menumbuhkan rasa kebersamaan.
Baca juga: Selama Ini Kita yang Di-Bodoh-i?
"Acara doa bersama dan kenduri di masjid atau rumah tokoh masyarakat mencerminkan kesadaran kolektif yang menguatkan rasa aman dan kepercayaan antarwarga." ucap Milki Amirus Sholeh seorang perantau Madura sekaligus pemerhati Sosial dari PRC.
Menurutnya, bagi masyarakat Madura yang dikenal sebagai perantau ulung, Tellasan Katopak (Tellasan Pettho') menjadi momen penting untuk memperbarui ikatan sosial dan memperkuat jaringan kebersamaan.
Ritual ini bukan sekadar perayaan, tetapi simbol kekuatan budaya dan sosial yang menumbuhkan rasa saling percaya dan persatuan.
Tellasan Katopak (Tellasan Pettho') adalah warisan budaya Madura yang kaya makna, melampaui sekadar tradisi berbagi makanan.
Ia menjadi jembatan sosial yang menghubungkan individu dalam jaringan solidaritas, memperkuat nilai kebersamaan, dan menjaga harmoni komunitas.
Tradisi ini mengingatkan kita bahwa dalam setiap perayaan, ada kesempatan untuk mempererat hubungan dan membangun rasa saling percaya. (dek/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat