Memperluas Dampak dan Perkuat Sistem Kaderisasi Pelajar, USG Gandeng IPNU-IPPNU Deket

Reporter : Wahyu Bahrudin
USG resmi menutup Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bersama PAC IPNU dan IPPNU Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan, Selasa (23/06/2026).

 

Lamongan, JatimUPdate.id, – Universitas Sunan Gresik (USG) resmi menutup Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bersama Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan, Selasa (23/06/2026).

Baca juga: Asrorun Ni’am Soleh Pimpin MA IPNU Era Baru, Komitmen Jadi Kekuatan Moral Bangsa

Program kolaboratif bertajuk "Pengembangan Manajemen Perawatan Kader Berbasis Integrasi Nilai Pendidikan dan Keislaman" ini dirancang sebagai upaya strategis dalam memperkuat sistem kaderisasi pelajar agar lebih terstruktur, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Kegiatan yang berlangsung selama dua bulan penuh sejak akhir April hingga Juni 2026 ini dijalankan oleh Tim Dosen Universitas Sunan Gresik menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR).

Pendekatan ini melibatkan secara aktif seluruh unsur organisasi.

Tercatat sebanyak 56 peserta mengikuti program ini, yang terdiri dari 40 kader perwakilan delapan ranting, 15 pengurus PAC, serta sejumlah mahasiswa Universitas Sunan Gresik sebagai pendamping lapangan.

Lahirkan Perangkat Organisasi dan Buku Panduan

Menariknya, program PkM ini tidak hanya berfokus pada pelatihan teoretis. Kolaborasi ini berhasil menelurkan sejumlah produk perangkat kaderisasi nyata yang menjadi pijakan baru bagi organisasi di tingkat kecamatan tersebut.

Di antaranya adalah dokumen antropologi wilayah, peta karakteristik kader, kurikulum kaderisasi informal berbasis mentoring, lima Standar Operasional Prosedur (SOP) perawatan kader, database kader, hingga Buku Manajemen Perawatan Kader Berbasis Nilai Pendidikan dan Keislaman.

Ketua Tim Pengabdian USG, Achmad Alfaridzih, M.Pd, menjelaskan bahwa selama ini tantangan terbesar organisasi pelajar sering kali terletak pada pasca-pelatihan formal. Banyak kaderisasi yang mandek setelah forum formal selesai.

"Kami melihat bahwa tantangan utama organisasi saat ini bukan hanya bagaimana mencetak kader, tetapi bagaimana merawat dan mengembangkan mereka secara sistematis setelah mengikuti kaderisasi formal," ujar Alfaridzih.

Ia menambahkan, program ini sengaja didesain untuk menghadirkan sistem pembinaan yang menyeluruh, mulai dari pemetaan potensi, mentoring, hingga monitoring secara berkala.

Integrasi antara nilai pendidikan dan keislaman dijadikan fondasi utama agar para kader matang secara intelektual, kuat dalam kepemimpinan, namun tetap memiliki karakter religius serta komitmen organisasi yang kokoh.

Baca juga: Bupati Hamid Wahid: IPNU–IPPNU Bondowoso Harus Lahirkan Kader Progresif dan Cinta Tanah Air

Dalam pelaksanaannya, Achmad Alfaridzih dibantu oleh tim dosen dan mahasiswa yang kompeten, antara lain M. Nasih Al-Hashas, M.Ag., Husnuz Zuhad, M.Pd., serta dua mahasiswa pendamping, Desi Kurniawan dan M. Zahrus Syafinabil.

Mereka bergerak mulai dari analisis kebutuhan organisasi, Focus Group Discussion (FGD), pelatihan, hingga workshop penyusunan perangkat.

Respons Positif PAC IPNU-IPPNU Deket

Keterlibatan aktif mahasiswa dalam program ini juga memberikan impresi mendalam. Desi Kurniawan dan M. Zahrus Syafinabil senada mengungkapkan bahwa turun langsung ke lapangan mendampingi kader IPNU-IPPNU memberikan pengalaman berharga mengenai dinamika organisasi kepemudaan. Mereka berharap instrumen yang telah disusun dapat terus dirawat demi melahirkan kader yang berkapasitas tinggi.

Di sisi lain, Ketua PAC IPNU Kecamatan Deket, Husnuz Zuhad, M.Pd, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi akademisi dari Universitas Sunan Gresik.

Menurutnya, dinamika sosial yang cepat membuat organisasi pelajar harus berbenah dan tidak bisa lagi memakai cara lama.

Baca juga: Dari Bondowoso untuk Indonesia: Bupati Hamid Sebut Munas MA IPNU Forum Gagasan Perubahan

"Sebelumnya, kaderisasi lebih banyak dipahami sebagai kegiatan formal seperti Makesta atau Lakmud saja. Setelah adanya program ini, kami memiliki paradigma baru bahwa kaderisasi adalah proses pembinaan yang berkelanjutan. Kini kami memiliki kurikulum, SOP, dan buku panduan yang jelas sebagai acuan bersama," ungkap Husnuz penuh optimisme.

Membangun Paradigma Baru Kaderisasi Pelajar

Berdasarkan data evaluasi di akhir program, terjadi lompatan signifikan dalam tata kelola organisasi di PAC IPNU-IPPNU Deket.

Sistem perawatan kader kini jauh lebih terukur dengan adanya database digital dan instrumen monitoring yang jelas.

Dengan berakhirnya program ini pada akhir Juni 2026, PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Deket diharapkan mampu memantapkan posisinya sebagai pilot project atau model sistem kaderisasi modern yang berpotensi direplikasi oleh wilayah-wilayah lain.

"Dengan memperbaiki sistem kaderisasi di kalangan pelajar, sama halnya kita sedang berupaya memupuk generasi untuk menyiapkan mereka sebagai masyarakat yang nantinya akan memberi kontribusi dan manfaat di eranya nanti," pungkas Alfaridzih. (wb/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru