Koperasi Rasa Korporasi
Oleh : ASKHABUL MUKMININ *
JatimUPdate.id - Kalau bukan MBG pasti KDKMP. Keduanya merupakan PSN (Program Strategis Nasional) yang menjadi fokus dalam binocular Indonesia. KDKMP (Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih) lantas akrab dipanggil Kopdes. Merah Putih. Ada yang bilang KDKMP ibarat gadis molek. Lain pihak menyebut KDKMP identik anak haram koperasi. GenZ berkata, KDKMP rasa Korporasi.
Definisi Koperasi ala Mr. Moh. Hatta; selaku Father of Indonesia Cooperatives saat Konggress Koperasi pada 1953 di Bandung, boleh jadi sudah tidak relevan. Koperasi hari ini sungguh berbeda dengan Koperasi sebelumnya. Spirit koperasi sebagai soko guru ekonomi rakyat senantiasa tumbuh dari bawah (grass root) itu dahulu kala.
Hari ini KDKMP lebih keren. Bagaimana tidak. Dalam kurun waktu kurang dari satu tahun sudah memiliki aset berupa gedung senilai 1,5 M bahkan ada yang 2 M. Di susul aset angkutan berupa truck. Di Boyolali karena pengurusnya Gercep, asetnya sudah menembus angka 5 M, dengan anggota ribuan. Hebat kata banyak pihak.
Jadinya, tahu sendiri. Negeri ini jadi riuh dengan debat. Tapi sepi kinerja.
Saat negara hadir, katanya mengintervensi. Saat Negara memberi ruang kreativitas penuh, koq cuma jadi penonton. Komentator di negeri kita berjibun dibanding yang berkarya. Terlibat dan melibatkan diri.
Percepatan pendirian KDKMP membuat decak kagum. Per Oktober 2025, telah berdiri 81.738 KDKMP dari target 80.000 an. Berlanjut Mei 2026 rekruitmen 30.000 Manajer Koperasi. Sebuah tantangan lapangan kerja baru di tingkat Desa, yang akan di isi para sarjana yang masih segar (fress graduate).
Ada yang optimis. Tidak sedikit yang pesimis. Ada yang mencoba menghembus hembuskan pesimisme. “Bisa apa, para anak muda yang masih zero pengalaman kerja itu. Nol besar, pasti tidak kompeten ,”katanya.
Ada yang tergelitik dan beradu argumen. Perspektif pesimis selalu memandang sebelah mata genZ. Dengan sebutan strobery lah. Generasi Mager lah.
Perspektif lain, GenZ memiliki kompetensi yang tersembunyi. Ibarat berlian belum di asah. Mereka hidup di era digital dengan segala information abbundance (keberlimpahan informasi).
Ada yang menarik, data recruitment Manajer KDKMP, Para sarjana segar ini banyak berlatar belakang aktivis. Dalam beberapa forum Training , ada berlatar aktivis HMI , PMII, IMM, GMNI dan aktivis internal Kampus.
Ada harapan baru. Kegairahan baru, bahwa Koperasi dahulu identik dengan grup pensiunan, Para Lansia. Kali ini GenZ mau terlibat dan melibatkan diri. Koperasi KDKMP sejak awal berdiri sudah menyediakan fitur /menu digital yang kata GenZ , ..”Gue Banget.
Bidang usaha yang di geluti, mencakup Retail Koperasi Modern, Klinik, Wisata, Distribusi dan segala potensi yang ada di desa, merupakan harta karun bagi KDKMP.
Sistem keanggotaannya tetap terbuka, tanpa mencederai jiwa dan spirit koperasi sebelumnya.
KDKMP adalah produk kebijakan ekonomi politik yang top down dan juga buttom up. Justru inilah kekuatan dan power full KDKMP.
Dalam rentang sejarah Republik pada 1896, betapa kita melihat perjalanan Koperasi dimulai sejak zaman R. Aria Wiraatmaja, seorang Patih Purwokerto yang mendirikan lembaga kredit. Lembaga ini diperuntukkan bagi pegawai Hindia Belanda (pribumi ) yang tercekik rentenir. Semangat Sarekat Dagang Islam, pada 1912 juga tidak bisa di lepaskan dari semangat kesaudagaran dan kemandirian ekonomi umat.
Adalah RM. Margono Djojohadikusumo yang tentu secara genetik memiliki hubungan darah dengan Presiden Prabowo, merupakan seorang tokoh Koperasi di zamannya. Kiprahnya dalam menggerakkan Koperasi dan ekonomi Kerakyatan masa pra kemerdekaan.
Pada 1930 sampai 1940, tercatat berdiri 574 Koperasi yang berupa Jawatan Koperasi, dengan keanggotaan lebih 52.000 anggota.
Pertanyaan besarnya. Apakah Pemerintahan Prabowo memang sedang mendesain PSN (Program Strategis Nasional) berupa KDKMP untuk melanjutkan Cita mulia yang tertunda ?
Ditengah situasi ekonomi global yang padat Capital, teknologi informasi, digitalisasi dan fintech (finansial technologi) KDKMP dengan segala kendala dan tantangannya tentu harus tampil cantik mempesona.
Para pengurusnya tidak lagi dari kalangan pensiunan. Ada GenZ yang di bekali dengan Leadhership, Entrepreneurship dan Manajemen modern.
Berkonklusi, KDKMP akan menjadi predator ekonomi di desa tentu ketakutan yang berlebihan. Namun meneropong KDKMP dengan pesimis, tentu kemundurun sejarah atau a historis.
Epilog tulisan ini mengingatkan Pasemon populer di era Soeharto.
OJO KAGETAN, OJO NGGUMUNAN. Koperasi yang tumbuh natural dan kultural .Dibilang tradisional dan lamban. Namun saat Negara hadir membela dan terlibat. Di kata, Koperasi koq di intervensi.
Yakinlah, KDKMP di tangan Generasi muda akan lahir Koperasi dengan cita rasa Korporasi tanpa takut kehilangan jati diri.
*Penulis adalah Instruktur KDKMP dan alumni In Plant Training, In -Went Maghdeburg, Germany
Editor : Redaksi