K'tut Tantri: Kisah Wanita Eropa "Nekat" Ikut Membersamai Ibu Pertiwi Demi Kemerdekaan Indonesia
Oleh: Septivan Wismo Pratama
NPM: 23046010010, Mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional 'Veteran' Jawa Timur.
Jurnalis magang Redaksi JatimUPdate
Surabaya, JatimUPdate.id -
Kalau kita bicara soal pahlawan kemerdekaan Indonesia, biasanya yang terbayang di kepala adalah sosok-sosok pribumi yang gagah berani angkat senjata di medan pertempuran. Sebut saja Pangeran Diponegoro, Jenderal Sudirman, atau Bung Tomo.
Tapi, tahukah kamu kalau ada seorang wanita berkulit putih, berambut pirang, dan berasal dari dunia Barat yang ikut bertaruh nyawa demi tegaknya bendera Merah Putih?
Kenalan yuk sama K'tut Tantri. Kisah hidupnya benar-benar melampaui imajinasi film aksi-petualangan Hollywood mana pun. Penuh plot twist, pengorbanan, dan dedikasi kemanusiaan yang sangat inspiratif.
Tulisan ini disyukuri dari berbagai sumber khususnya Autobiografi K'Tut Tantri dengan judul Revolt in Paradise atau Revolusi Di Nusa Damai
Melarikan Diri dari Kepalsuan Hollywood
Nama aslinya bukanlah K'tut Tantri, melainkan Muriel Stuart Walker. Ia lahir di Skotlandia pada akhir abad ke-19, namun menghabiskan masa mudanya dan merintis karier di Amerika Serikat, tepatnya di industri perfilman Hollywood.
Lalu, bagaimana ceritanya seorang wanita karier dari gemerlapnya Amerika bisa nyasar ke pelosok Nusantara dan ikut bergerilya?
Semuanya bermula dari krisis eksistensial dan rasa bosan. Muriel merasa hidup di Hollywood terlalu "palsu", materialistis, dan kehilangan ruh kemanusiaan.
Suatu hari di tahun 1930-an, ia menonton sebuah film dokumenter berjudul "Bali, the Last Paradise". Lewat layar perak itu, ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan keindahan dan kebersahajaan Nusantara. Tanpa pikir panjang dan berbekal kenekatan yang luar biasa, ia membuang kariernya, membeli tiket kapal laut satu arah menuju Pulau Dewata, dan tak pernah menoleh ke belakang.
Bahasa Sebagai Kunci: Menjadi Anak Angkat Raja Bali
Setibanya di Bali, Muriel menolak keras gaya hidup eksklusif ala turis kulit putih atau para pejabat kolonial Belanda yang suka mengisolasi diri. Ia ingin menyatu dengan napas kehidupan rakyat biasa. Sebagai seorang yang cerdas, ia sadar bahwa kunci utama untuk masuk ke dalam sebuah budaya adalah melalui bahasanya.
Ia pun belajar bahasa Bali dan bahasa Melayu secara otodidak. Tidak hanya itu, ia menanggalkan gaun Baratnya, mulai mengenakan kebaya sehari-hari, dan tekun belajar menari. Keramahan, keluwesan berbahasa, dan keseriusannya dalam menghargai adat lokal membuat Raja Bangli sangat terkesan.
Puncaknya, Muriel secara resmi diadopsi oleh sang Raja dan diberikan nama Bali: K'tut Tantri. "K'tut" berarti anak keempat dalam tradisi Bali, sementara "Tantri" diambil dari nama seorang tokoh dongeng lokal yang dikenal cerdik dan bijaksana.
Menyelundupkan Obat-obatan dan Disiksa Kempetai Jepang
Kehidupan damainya di Bali hancur lebur ketika Perang Dunia II meletus. Kekaisaran Jepang datang menjajah dan menyingkirkan Belanda dari Nusantara.
Melihat penderitaan rakyat akibat kekejaman fasisme Jepang, hati nurani K'tut Tantri terpanggil. Ia tidak memilih kabur kembali ke Amerika. Sebaliknya, ia menjalin kontak dengan gerakan bawah tanah (gerilya) pejuang Indonesia.
Perannya saat itu sangat krusial di bidang kemanusiaan. Ia aktif menyelundupkan obat-obatan dan perbekalan medis secara diam-diam untuk para pejuang. Wajah ras Kaukasianya sempat membuatnya dicurigai sebagai mata-mata, namun tindakannya membuktikan kesetiaannya.
Sayangnya, aktivitas ini tercium oleh Kempetai (Polisi Rahasia Jepang). K'tut Tantri ditangkap, dijebloskan ke penjara yang kotor, dan disiksa secara brutal selama berbulan-bulan. Meski tubuhnya hancur, mental bajanya tak goyah; tak satu pun nama pejuang Indonesia yang keluar dari mulutnya.
"Surabaya Sue" dan Senjata Bernama Jurnalisme Udara
Setelah Jepang menyerah dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, ancaman belum berakhir. Tentara Sekutu yang diboncengi Belanda (NICA) datang ke Surabaya untuk kembali menjajah. Di momen genting inilah, K'tut Tantri menemukan panggilan jiwa terbesarnya.
Ia berangkat ke Surabaya dan bergabung dengan barisan Bung Tomo. Jika para arek-arek Suroboyo memegang bambu runcing dan senapan rampasan, K'tut Tantri memegang senjata yang efeknya menembus batas benua: mikrofon.
K'Tut Tantri ditunjuk menjadi penyiar di radio Voice of Free Indonesia (Suara Indonesia Merdeka).
Setiap malam, dengan diksi bahasa Inggris yang tajam dan retorika yang cerdas, ia menerjemahkan pidato perlawanan Bung Tomo dan membongkar kebohongan propaganda Belanda kepada dunia internasional.
Ia mengabarkan kepada tentara Sekutu (terutama Inggris dan Australia) bahwa Indonesia adalah bangsa merdeka yang sedang mempertahankan kedaulatannya, bukan sekumpulan pemberontak ekstremis seperti yang dituduhkan Belanda.
Karena daya ledak siarannya yang luar biasa itu, media-media Barat memberinya julukan legendaris: "Surabaya Sue".
Pemerintah kolonial Belanda yang geram lantas memburunya dan menghargai kepalanya dengan nilai yang sangat fantastis.
Napas Sejarah dalam Kerelawanan Jurnalis Masa Kini
Jika ditarik benang merahnya, perjuangan K'tut Tantri di Surabaya membuktikan bahwa seorang pekerja media atau jurnalis sejatinya bukan sekadar mesin penyampai informasi.
Di masa krisis dan pergolakan, mereka adalah relawan kemanusiaan yang berjuang di garis depan dengan senjatanya sendiri: kebenaran. K'tut Tantri memadukan jurnalisme dan aksi kemanusiaan (menyelundupkan obat) dalam satu tarikan napas perjuangan.
Semangat kerelawanan jurnalistik semacam inilah yang rupanya tidak pernah padam dan terus direlevansikan hingga hari ini di Jawa Timur. Di era modern, di mana musuh kita bukan lagi penjajah melainkan bencana alam dan krisis sosial, jurnalis tetap memegang peran sentral dalam misi kemanusiaan.
Hal ini sejalan dengan langkah strategis yang baru-baru ini digagas di provinsi ini. Mengutip pemberitaan Jatim Update, semangat relawan jurnalis ini sedang dihidupkan melalui sinergi yang kuat antara Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur dan Palang Merah Indonesia (PMI) Jawa Timur.
Ketua PMI Jatim, Imam Utomo, secara tegas menyoroti pentingnya peran pekerja media dalam aksi kepalangmerahan. "PWI Jatim mitra strategis PMI Jatim. Ide membentuk satuan relawan jurnalis palang merah di wilayah Jatim mesti segera diwujudkan," kata Imam Utomo.
Gagasan pembentukan satuan relawan jurnalis ini seolah menjadi penyambung tongkat estafet perjuangan dari masa lalu.
Jika dulu K'tut Tantri menggunakan jurnalisme radionya sebagai bentuk kerelawanan untuk membela hak asasi dan kemerdekaan bangsa, kini para jurnalis Jatim diajak untuk turun gelanggang bersama Palang Merah guna menyuarakan edukasi tanggap bencana dan menjalankan aksi nyata kemanusiaan di lapangan.
Akhir Hayat Sang Bule Pemberontak
Setelah Indonesia benar-benar merdeka dan diakui kedaulatannya secara penuh, K'tut Tantri mendedikasikan waktunya untuk menulis sebuah otobiografi epik berjudul Revolt in Paradise (Pemberontakan/Revolusi di Surga/Nusa Damai). Buku tersebut seketika menjadi best-seller di berbagai negara, dan berhasil membuka mata dunia tentang betapa heroiknya perjuangan revolusi fisik di Indonesia.
Meskipun pada akhirnya ia harus kembali ke dunia Barat demi alasan kesehatan, cintanya pada Republik Indonesia tidak pernah luntur.
Menjelang akhir hayatnya di Australia pada tahun 1997, K'tut Tantri meninggalkan satu wasiat terakhir: ia meminta agar jasadnya dikremasi dan abunya dilarung di pantau agar bisa menyatu dengan air laut Bali, tempat di mana jiwanya selalu merasa pulang.
Kisah K'tut Tantri adalah tamparan keras sekaligus inspirasi bagi kita semua. Ia mengajarkan bahwa nasionalisme, kerelawanan, dan cinta pada keadilan sama sekali tidak memandang warna kulit, ras, maupun asal negara.
Ia adalah bukti sejarah yang tak terbantahkan bahwa siapa pun bisa menjadi pahlawan bagi bumi pertiwi, asalkan ada niat yang tulus dan keberanian murni di dalam hati. (red)
Editor : Redaksi