Saya Hanya Sekali Bertemu Moh. Qodari di Jember, Tapi Kesan Itu Masih Tersisa hingga Kini
Oleh: Rio Rolis
Jurnalis JatimUPdate.id
Blitar, JatimUPdate.id - Saya hanya pernah berjumpa sekali dengan Moh. Qodari, dalam sebuah pelatihan persiapan survei nasional di Jember.
Ia hadir sebagai pemateri dengan tema yang cukup serius: demokrasi dan isu-isu keislaman.
Ruang pelatihan itu tidak besar.
Pesertanya datang dari berbagai daerah, sebagian besar bekerja dalam rantai teknis survei—dari perencanaan hingga pengumpulan data lapangan.
Tidak ada sorotan media, tidak ada panggung besar. Hanya ruang kerja yang sunyi, tempat data biasanya mulai dibentuk sebelum menjadi angka publik.
Saat itu, ia masih beraktivitas di Lembaga Survei Indonesia (LSI). Saya berada di lembaga yang sama, tetapi di posisi yang jauh berbeda dalam struktur kerja.
Ia di level pimpinan, sementara saya berada di lapisan paling bawah sebagai pengumpul data lapangan.
Secara administratif, jarak itu jelas. Namun dalam ruang diskusi, batas tersebut tidak selalu terasa tegas. Cara ia menyampaikan materi runtut, dengan penekanan pada bagaimana opini publik terbentuk, dan bagaimana data tidak pernah benar-benar berdiri sendiri tanpa konteks sosial.
Yang tertinggal dari pertemuan itu bukan hanya isi materi, tetapi juga cara ia membawakan diri. Ada selipan humor ringan di tengah penjelasan serius, membuat suasana tidak kaku.
Sebagai sesama yang berasal dari Palembang, ada sesuatu yang terasa akrab dalam cara ia berkomunikasi. Tidak kaku, tidak sepenuhnya birokratis.
Dalam bahasa sehari-hari orang Palembang, keluwesan semacam itu sering disebut “pacak nian”—mampu mengolah kata, membaca situasi, dan menjaga alur komunikasi tetap hidup tanpa kehilangan arah.
Dalam penyampaian materi, ia juga menyebut latar belakangnya di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), serta statusnya di KAHMI.
Saya sendiri saat itu masih aktif di HMI, bahkan menjabat Ketua Umum Komisariat FISIP Universitas Jember. Ada kesamaan kecil yang tidak direncanakan: sama-sama berasal dari Palembang, atau “wong Kito Galo”.
Kesamaan itu tidak pernah menjadi pokok pembicaraan, tetapi cukup untuk menghadirkan rasa akrab di tengah ruang yang sepenuhnya formal.
Pertemuan itu berlangsung singkat, hanya satu sesi. Setelahnya, tidak ada komunikasi lanjutan. Namun dalam kerja-kerja jurnalistik, pertemuan seperti ini sering kali tidak hilang sepenuhnya, meski juga tidak selalu kembali dibuka.
Yang tersisa bukan percakapan, melainkan kesan: tentang cara seseorang menjelaskan dunia survei bukan hanya sebagai angka, tetapi sebagai cara membaca masyarakat yang bergerak.
Moh. Qodari kemudian dikenal lebih luas dalam dunia survei dan komunikasi politik nasional. Perjalanannya berlanjut hingga dipercaya menempati posisi strategis di lingkar komunikasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Terbaru, Qodari dilantik sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) pada Senin, (27/04/2026). Dalam periode pemerintahan Prabowo, posisinya di bidang komunikasi publik tercatat mengalami beberapa penyesuaian, seiring dengan konsolidasi strategi komunikasi pemerintah yang terus berkembang.
Dalam konteks itu, penempatan di Bakom RI dipandang sebagai penguatan peran komunikasi pemerintah yang lebih terstruktur, terutama dalam menyatukan pesan-pesan publik agar lebih konsisten, mudah dipahami, dan menjangkau berbagai lapisan masyarakat.
Dalam istilah orang Palembang, ada ungkapan “ *pacak nian”* untuk menggambarkan keluwesan membaca situasi dan menyusun pesan. Dalam ruang komunikasi publik, karakter semacam ini kerap dianggap penting: bukan hanya menyampaikan isi, tetapi juga menjembatani jarak antara negara dan publik.
Sementara saya melanjutkan jalan yang berbeda, satu pertemuan di Jember itu tetap tinggal sebagai catatan kecil.
Bahwa dalam dunia yang sangat berbasis data sekalipun, ada hal-hal yang tidak selalu tercatat dalam angka: cara seseorang berbicara, membaca situasi, dan meninggalkan kesan singkat yang bertahan lebih lama daripada satu sesi pelatihan.
Editor : Redaksi