Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 04/08/2026

Reputasi Gerakan Mahasiswa

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi
Ilustrasi

 

Oleh Abdul Rohman Sukardi 

Penulis Independen, esais, aktivis reformasi 1998. Menulis tema/isu Sosial, Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.

 

Jakarta, JatimUPdate.id - Reputasi gerakan mahasiswa Indonesia dibangun melalui sejarah panjang. Sebagai kekuatan moral yang berorientasi pada kepentingan kebangsaan. 

Kepercayaan publik terhadap gerakan mahasiswa Indonesia tidak semata-mata lahir dari kemampuan menggalang massa. Tetapi lahir dari keberaniannya mengambil posisi kritis ketika bangsa menghadapi persoalan mendasar. 

Reputasi tersebut merupakan modal sosial yang menentukan. Apakah suara mahasiswa dipandang sebagai kepentingan publik atau sekadar bagian dari kompetisi politik.

Sejarah Indonesia menunjukkan pola tersebut. 

Pada 1908, gerakan Kebangkitan Nasional menandai lahirnya kesadaran nasionalisme dan pentingnya persatuan bangsa. Pada 1928, gerakan pemuda melahirkan Sumpah Pemuda yang menegaskan identitas nasional di atas perbedaan daerah dan golongan. 

Pada 1945, kaum muda berperan penting dalam mendorong momentum kemerdekaan Indonesia. Peran tersebut berlangsung dalam situasi perubahan geopolitik akibat berakhirnya Perang Dunia II. Ketika terjadi kekosongan kekuasaan kolonial setelah Jepang menyerah kepada Sekutu. 

Momentum tersebut dimanfaatkan oleh para pemuda dan tokoh pergerakan untuk mempercepat proklamasi kemerdekaan.

Perjalanan itu berlanjut pada 1965/1966 ketika gerakan mahasiswa mengambil posisi korektif terhadap krisis politik dan penyimpangan arah ideologis yang dipandang terjadi pada masa Demokrasi Terpimpin. Gerakan mahasiswa pada periode tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam perubahan konfigurasi politik nasional. 

Selanjutnya, pada 1998, gerakan mahasiswa kembali tampil sebagai kekuatan korektif. Mendorong reformasi politik, penegakan demokrasi, dan perubahan tata kelola pemerintahan. Walaupun gerakan 1998 ini pada akhirnya ditunggangi kepentingan oligarkhi (dalam negeri dan asing) untuk menghentikan agenda tinggal landas Indonesia. 

Kelima momentum tersebut memperlihatkan satu pola: gerakan mahasiswa memperoleh legitimasi ketika mampu menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok. Sejarah menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa selalu bersentuhan dengan politik, tetapi politik yang diperjuangkan adalah politik kebangsaan, bukan politik kepentingan kekuasaan.

Dalam perspektif masyarakat sipil _(civil society)_ Antonio Gramsci, kekuatan sosial memperoleh pengaruh bukan karena memiliki kekuasaan formal. Melainkan karena mampu membangun legitimasi moral dan intelektual di tengah masyarakat. 

Posisi mahasiswa menjadi penting karena berada di luar struktur negara dan partai politik. Independensi bukan sekadar sikap organisatoris, melainkan sumber otoritas moral yang membuat suara mahasiswa dipercaya.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Soedjatmoko mengenai peran kaum intelektual dalam kehidupan bangsa. Kaum terpelajar tidak hanya dituntut memiliki pengetahuan, tetapi juga tanggung jawab moral untuk membaca persoalan zaman. Kemudian memberikan kritik konstruktif demi kepentingan masyarakat luas.

Dalam teori gerakan sosial Sidney Tarrow dan Doug McAdam, keberhasilan sebuah gerakan tidak hanya ditentukan oleh jumlah massa. Tetapi juga kemampuan membangun identitas bersama dan memperoleh legitimasi publik. 

Gerakan 1928 dan 1998 memperoleh dukungan luas karena membawa agenda yang dipahami sebagai kepentingan nasional.

Karena itu, tantangan gerakan mahasiswa hari ini bukan menghindari politik. Melainkan memastikan bahwa politik yang diperjuangkan tetap berada dalam koridor kepentingan bangsa. 

Independensi tidak berarti apatis, tetapi keberanian menjaga jarak kritis dari seluruh kekuatan politik. Ketika sebagian gerakan mahasiswa dipersepsikan terlalu dekat dengan kepentingan partisan, yang terancam bukan hanya citranya, tetapi warisan sejarahnya.

Dalam demokrasi yang semakin terbuka, tantangan mahasiswa bukan hanya keberanian menyampaikan kritik. Tetapi juga kemampuan memastikan bahwa kritik tersebut tetap memiliki dasar intelektual, etika publik, dan independensi moral.

Reputasi gerakan mahasiswa adalah warisan yang dibangun melalui keberanian generasi 1908, semangat persatuan 1928, perjuangan kemerdekaan 1945, sikap korektif 1965/1966, dan tuntutan demokratisasi 1998. Masa depan gerakan mahasiswa bergantung pada kemampuannya menjaga kepercayaan publik sebagai kekuatan moral bangsa.

 

Jakarta, ARS ([email protected]).