Hadapi Ancaman Bencana Hidrometeorologi, Pemkab Sidoarjo Siagakan 17 Pompa Air dan 4 Perahu Karet

avatar Imam Hambali
  • URL berhasil dicopy
Bupati Sidoarjo Subandi tengah mengecek kesiapan tim penanggulangan bencana di Sidoarjo termasuk kesiapan perahu karet.
Bupati Sidoarjo Subandi tengah mengecek kesiapan tim penanggulangan bencana di Sidoarjo termasuk kesiapan perahu karet.

 

Sidoarjo, JatimUPdate.id - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi menjelang musim hujan. Sebanyak 17 unit pompa air, empat perahu karet, puluhan kendaraan operasional, hingga peralatan evakuasi disiagakan untuk mengantisipasi banjir, angin kencang, dan kekeringan.

Selain menyiapkan sarana dan prasarana, Pemkab Sidoarjo juga memperkuat posko bencana di sejumlah wilayah rawan banjir. Normalisasi sungai dan saluran air terus dilakukan sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko genangan.

Wilayah yang menjadi perhatian meliputi Tanggulangin, Porong, Candi, Waru, Jabon, Krembung, hingga kawasan Sidoarjo Kota.

Kesiapan tersebut ditegaskan Bupati Sidoarjo Subandi saat memimpin Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi di Alun-Alun Sidoarjo, Jumat (6/11/2026). Kegiatan ini diikuti sekitar 400 peserta dari unsur TNI, Polri, BPBD, perangkat daerah, Basarnas Surabaya, PLN, PMI, serta relawan.

Berbagai peralatan disiapkan untuk mendukung penanganan bencana. Di antaranya 17 unit pompa air, empat perahu karet, 51 kendaraan operasional, ambulans, 10 sepeda motor trail, dan 12 unit mobil pemadam kebakaran.

Pemkab juga menyediakan 40 tenda pengungsian, dua dapur umum, 20 genset, serta 50 gergaji mesin.

Kesiapsiagaan tersebut diperkuat dengan keberadaan 32 rumah air yang tersebar di enam kecamatan, yakni Taman, Tanggulangin, Sidoarjo, Waru, Candi, dan Porong.

Selain satu posko siaga utama BPBD, empat posko bencana disiapkan di wilayah Tanggulangin, Porong, Candi, dan Jabon. Posko tersebut akan diaktifkan ketika terjadi bencana banjir.

Subandi menginstruksikan seluruh kecamatan agar mengaktifkan posko bencana dan meningkatkan koordinasi lintas sektor. Menurutnya, kesiapan personel dan peralatan harus dipastikan sebelum bencana terjadi.

"Saya instruksikan masing-masing kecamatan mengaktifkan posko bencana. Kolaborasi harus terus ditingkatkan, termasuk melalui forum dan pelatihan kebencanaan. Bencana ini tidak bisa diperkirakan sehingga harus kita tanggulangi dengan kesiapsiagaan," tegas Subandi.

Di luar kesiapan peralatan, Pemkab Sidoarjo terus mengintensifkan upaya pengendalian banjir melalui normalisasi sungai dan saluran air. Pekerjaan tersebut diprioritaskan di kawasan Tanggulangin, Porong, dan Candi.

Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) terus melakukan normalisasi. Koordinasi dengan para camat juga dilakukan untuk memetakan serta menangani titik-titik rawan banjir, termasuk di kawasan perkotaan.

Di wilayah Kedungpeluk, Kecamatan Candi, pemerintah daerah telah membangun dam berukuran besar yang dilengkapi kegiatan normalisasi untuk mendukung pengendalian banjir.

Namun, Subandi mengakui penanganan banjir di Sidoarjo memiliki tantangan tersendiri. Karakteristik geografis Sidoarjo sebagai wilayah delta membuat sejumlah kawasan rentan mengalami genangan.

"Kalau air rob meluap, air tidak bisa langsung kita keluarkan. Kita harus menunggu sampai kondisi air memungkinkan, baru dilakukan pembuangan," jelasnya.

Menurut Subandi, ancaman bencana yang paling dominan di wilayah Delta Sidoarjo adalah banjir. Meski demikian, pemerintah daerah tetap mengantisipasi kemungkinan terjadinya angin puting beliung, kebakaran, hingga kekeringan.

Berdasarkan data BMKG, musim hujan di Sidoarjo diperkirakan berlangsung mulai Desember 2026 hingga Maret 2027. Puncak curah hujan diprediksi terjadi pada Februari 2027.

Durasi musim hujan tahun ini diperkirakan lebih singkat. Sementara itu, fenomena El Nino diprediksi masih berlangsung hingga Februari 2027 sehingga pola cuaca berpotensi sulit diprediksi.

Data kebencanaan Kabupaten Sidoarjo mencatat sebanyak 28 kejadian bencana selama Januari hingga 1 November 2026. Rinciannya, empat kejadian banjir, 21 kejadian angin kencang, dan tiga kejadian kekeringan.

Dampak angin kencang tercatat melanda 14 kecamatan dan 63 desa. Sebanyak 288 rumah warga mengalami kerusakan ringan.

Menghadapi potensi ancaman tersebut, Subandi mengapresiasi keterlibatan TNI, Polri, instansi terkait, dan relawan dalam penanganan bencana.

Ia berharap sinergi seluruh pihak terus diperkuat, mulai dari mitigasi, kesiapan personel, hingga penanganan darurat agar masyarakat mendapatkan perlindungan maksimal.

"Saya berharap sinergi pemerintah daerah, TNI, Polri, instansi terkait, dan relawan terus diperkuat sehingga upaya mitigasi dan penanganan bencana dapat berjalan optimal serta memberikan perlindungan bagi masyarakat," pungkasnya.(ih)