Catatan Mas AAS

Berpikir Kritis

Reporter : -
Berpikir Kritis
Mas AAS

Berpikir kritis adalah cara berpikir manusia dalam merespon orang lain, menganalisa fakta untuk membentuk sebuah penilaian. Definisi yang secara random dikutip dari Wikipedia.

Setengah jam masih ada waktu. Sekadar menunggu di emper rumah. Sebelum antar orang rumah ke kantornya.

Baca Juga: Hasrat Menulis Sesuatu

Waktu yang ada digunakan penulis untuk menganyam aksara sebentar. Agar slilit pikiran itu tidak muspro mengendap di memori pikiran saja.

Karena jam berikutnya, karena hari berikutnya. Tema tulisan sudah berbeda: seturut suguhan yang dihadirkan oleh semesta, dalam kehidupan sehari-hari!

Semalam terasa hening sejenak. Usai debat capres berakhir antiklimaks. Semua Paslon bisa jadi sadar. Bahwa negeri yang besar ini, mesti dipimpin oleh kualitas diri seorang negarawan. Bukan seorang politikus yang acap kali berpikir dalam jarak tembak yang begitu pendek: "Apa untungnya buatku!"

Namun pagi yang segar, angin masih terasa dingin menerpa tubuh. Hantaman cacian, dan menyangkal semua pekerjaan dari pemimpin negeri ini, mulai di tabuh kembali genderangnya! Oleh para die hard pendukung masing-masing.

Wajar karena waktu itu begitu berharga time is money. Para sutradara di balik layar setiap Paslon. Langsung bunyikan alarm: "Kawan-kawan segera bergerak kembali galang opini, menangkan calon kita!" Mungkin begitu yang dipikirkan setiap kapten Timnas TPN setiap Paslon!

Sehingga, whatsApp grup sudah panas dengan tsunami: meme, berita, dan acap kali sumpah serapah, yang terselubung sambil malu-malu atau malahan malu-maluin berbunyi, ber-langgam rada sarkas.

Dan baterai di hape penulis tinggal satu dua persen saja saat melihat geliat ruang maya di jagat modern tersebut! Tak pelak colokan di emper rumah jadi membantu buat ngechas smartphone, agar bisa menulis! Hari-hari ini semua manusia di negeri ini sedang berikhtiar dengan ideologi dan keyakinannya masing-masing.

Berjuang raih sesuatu: buat dirinya sendiri, golongan, partai mungkin, atau malah negara bisa jadi. Tapi bagi kaum pesimis, hal demikian dianggapnya absurd sangat mungkin jadi benar. Bukankah kesadaran berjuang dan melakukan keberpihakan ke mana, ke siapa, bukannya dibangun dalam waktu yang lama.

Baca Juga: Tinggal Bermanifest Saja

Sehingga seseorang itu mampu menjadi pemimpin dan seorang negarawan. Memiliki stamina dalam mengontrol kepentingan dirinya sendiri yang hendak di raihnya!

Apakah sekadar memuaskan libido dan perutnya semata. Atau bisa berpaling ingin membangun sebuah legacy hidup sebagai seorang leader bangsa ini di masa hidupnya.

Yang bisa menulis, ia akan memahat huruf. Yang tidak bisa ia akan forward ulang tulisan orang yang isinya menguntungkan Paslon yang didukungnya. Yang penumpang gelap, boleh jadi ada kesenangan melihat antar teman dan antar golongan, kalau bisa tawuran setidaknya ber-kamuflase dengan kata, kalimat, untuk memastikan tujuannya tercapai: buat chaos komunitas barangkali!

Lalu penulis berjuang demi apa dengan tulisan ini. Tidak muluk hanya satu saja: "Masih ada keyakinan dalam diri penulis, setiap pemimpin selalu berharga: jangan kita bully sedemikian rupa karena akan berakhir jabatannya. Karena akan menyambut datangnya pemimpin yang baru!" Itu saja harapan dan mimpi penulis bisa terjadi di negeri tercinta.

Masak sejak Sukarno hingga Jokowi, tradisi tidak baik itu akan kita rawat terus, sebagai sebuah BANGSA. Lupakan pemimpin sebelumnya dan sanjung setinggi langit kehadiran pemimpin yang baru! "Yo gak ngono Rek!"

Baca Juga: Belajar Manajemen Dari Semut Hitam

Apakah salah? Bila di jaman modern ini. Cara berpikir penulis juga ikut modern. Setidaknya setiap pemimpin berani meng-endorse para pendukungnya bisa menghargai dan menghormati pemimpin sebelumnya.

Sepertinya orang rumah sudah siap di garasi, berdiri menunggu penulis mengedit tulisan sejenak. Saatnya tulisan diakhiri! Lalu di share siapa tahu menjadi wasilah amal jariah yang bisa dipahat oleh semesta sebagai manusia yang berpihak: berpihak kepada ilmu yang diajarkan olehNya, aamiin yra.

Demikian.


AAS, 5 Februari 2024
Emper Rumah Rungkut Surabaya

Editor : Redaksi