Warkop Langganan Rungkut Surabaya, 17 Maret 2026

Di Ambang Lebaran: Antara THR, Akreditasi, dan Panggilan Pulang

Reporter : Redaksi
Suasana Pelantikan Pengurus DPD AFEBSI Jatim

 

Oleh: Dr. Agus Andi Subroto

Baca juga: 750 Pemudik Diberangkatkan, Pemkab Gresik Sediakan 15 Bus Untuk Program Mudik Gratis

 Ketua DPD AFEBSI Jatim


Surabaya, JatimUPdate.id - Malam berjalan pelan menuju ujungnya. Di sela-sela keheningan itu, kampus perlahan merapikan dirinya, seolah ikut bersiap menyambut jeda panjang bernama Lebaran.

Hari ini bisa saja disebut sebagai hari terakhir sebelum semuanya berhenti sejenak—ruang kelas yang lengang, meja kerja yang ditinggalkan, dan percakapan yang ditangguhkan.

Di balik itu semua, amplop THR mungkin telah berpindah tangan. Senyum para pendidik pun merekah, sederhana tetapi tulus. Namun, di sudut lain yang tak kasatmata, pikiran mereka belum benar-benar beristirahat.

Di dalam labirin benak, tugas-tugas administratif masih berputar, terutama satu kata yang kerap mengendap dan tak mudah diabaikan: akreditasi.

Begitulah kehidupan seorang pendidik. Di satu sisi, ia manusia yang merindukan jeda. Di sisi lain, ia adalah bagian dari sistem yang terus bergerak, menuntut kesiapan, ketelitian, dan ketangguhan.

Di luar itu, ada panggilan yang lebih tua dari sekadar kewajiban profesional: pulang ke kampung halaman. Sebuah kerinduan yang tidak pernah sepenuhnya hilang. Sebab di sanalah akar kehidupan tertanam—tempat nilai, cara pandang, dan harapan pertama kali dibentuk.

Mudik, dalam hal ini, bukan sekadar perjalanan geografis. Ia adalah perjalanan batin. Menziarahi leluhur, menyapa keluarga, dan menautkan kembali serpihan-serpihan makna yang mungkin sempat tercerai oleh rutinitas.

Barangkali, di tengah kesibukan yang menumpuk, pulang adalah cara paling jujur untuk mengingat kembali siapa diri kita.

Namun kehidupan tidak hanya berputar pada ruang personal. Dalam waktu yang hampir bersamaan, roda organisasi juga terus bergerak. Agenda kerja sama antara dunia kampus dan organisasi profesi, seperti yang tengah direncanakan oleh DPD AFEBSI Jawa Timur bersama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, menunjukkan bahwa kerja kolektif tidak pernah benar-benar berhenti.

Koordinasi dilakukan, perangkat disiapkan, dan partisipasi dihimpun. Ada optimisme yang tumbuh, bahwa kolaborasi adalah jalan untuk memperluas dampak. Di sinilah kita melihat bahwa peran pendidik tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi juga menjangkau ruang-ruang pengabdian yang lebih luas.

Baca juga: Harmoni Nyepi dan Takbiran Dari Desa Balun

Menariknya, di tengah segala kesibukan itu, suasana intelektual di kampus tetap menyala. Para promovendus muda terlihat tekun belajar dan berdiskusi, merampungkan studi doktoral mereka dengan kesungguhan yang tidak main-main. Ada semangat gotong royong intelektual yang terasa—sebuah tradisi yang tidak dibangun dalam sehari, tetapi melalui kebiasaan saling menguatkan.

Di situ, kampus tidak lagi sekadar tempat bekerja, melainkan ruang peradaban.

Kita pun menyadari bahwa menjadi pendidik hari ini bukanlah perkara sederhana. Ia harus mampu mengelola dirinya sebagai individu, sekaligus menjadi bagian dari gerak kolektif institusi. Ada agenda pribadi, ada pula tanggung jawab organisasi. Keduanya berjalan beriringan, sering kali tanpa jeda.

Maka wajar jika sesekali kita membutuhkan ruang untuk bernapas.

Lebaran memberi ruang itu. Ia menghadirkan jeda yang bukan sekadar berhenti, tetapi juga kesempatan untuk menata ulang langkah. Dalam jeda itulah, pulang menjadi penting. Bukan semata untuk melepas rindu, tetapi untuk menguatkan kembali energi batin.

Barangkali tidak berlebihan jika sebagian “amunisi logistik” yang dimiliki digunakan untuk pulang. Sebab dari sanalah, sering kali kita menemukan kembali alasan mengapa harus melangkah.

Baca juga: Kemenangan Sejati Ala Kaum Sufi: Idul Fitri Bukan Sekadar Lebaran

Dan setelah semua itu, kita akan kembali. Kembali ke kampus, ke ruang-ruang kelas, ke meja kerja, ke barak peradaban yang tidak pernah benar-benar tidur. Sebab di sanalah kita menjalankan peran, mengabdikan diri, dan membangun masa depan bersama.

Pada akhirnya, di mana pun kita berpijak, di situlah langit harus dijunjung setinggi-tingginya. Dengan segala kemampuan yang dimiliki, dengan segala keterbatasan yang disadari, kita tetap berupaya memberi yang terbaik.

Sebab menjadi pendidik bukan hanya soal mengajar, tetapi tentang merawat harapan.

Dan di antara jeda Lebaran yang sebentar itu, semoga kita tidak hanya menemukan waktu untuk pulang, tetapi juga keberanian untuk kembali—dengan semangat yang lebih utuh.

Urip iku Urup. Setiap kata adalah cahaya, semoga catatan kecil ini menjadi sedekah yang menyalakan kebaikan bersama.

 

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru