Jakarta, JatimUPdate.id - Tepat pukul 09.41, Rabu (24/06/2026) grup wa Jaringan Indonesia mendapat kiriman wa sebuah artikel opini atau tulisan tanpa nama yang dikirim khusus oleh Sekretaris Jendral Majelis Nasional Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (Sekjend MN Kahmi), Syamsul Qomar, mengirim wa dan dibawahnya sambil "Siapa yang menulis artikel ini?" tanya Cak Qomar.
Dibawahnya, kangmas Yayat Biaro menimpali, "Saking menjiwai tulisan ttg Prof Lafran, sampe penulisnya gak mau cantumkan nama, 🫣🫣🫣🫣," ungkap Yayat.
Sehingga polemik tentang siapa yang menulis menjadi perdebatan meski, semua pihak mengakui tulisan artikel tentang seputar -tata laku- alm Pahlawan Nasional, pendiri organisasi Himpunan Mahasiswa Islam itu memang layak untuk dikutip dan dipublikasikan.
Oleh sebab itu, Redaksi JatimUPdate.id memberanikan untuk mempublikasi dengan beberapa catatan yaitu terkait judul dan penulis, sehingga secara khusus, diberi judul dan penulis meski publikasi ini bisa diperbarui data terkait dua hal ini bila ada yang melakukan klarifikasi dan keberatan.
Hikayat Prof Lafran Pane, Jujur Sejak dari Fikiran
Oleh Anonim, Pecinta Prof Lafran Pane
Ada orang yang hidupnya sederhana banget.
naik sepeda onthel ke kampus.
nggak punya mobil. nggak punya rumah sendiri.
Waktu dia mati pun, nggak ada harta yang ditinggal.
Tapi organisasi yang dia bikin
melahirkan wakil presiden, menteri, ketua MK, dan puluhan elite republik.
namanya Lafran Pane.
Lafran lahir 5 Februari 1922 di Sipirok, Tapanuli Selatan.
Kakak-kakaknya, Sanusi Pane dan Armijn Pane, adalah sastrawan besar Indonesia.
ayahnya jurnalis, aktivis, dan salah satu pendiri Muhammadiyah di Sipirok.
Tapi Lafran kecil?
nakal. berantem. sering pindah sekolah.
Nggak ada yang nyangka dia bakal jadi siapa.
Ibunya meninggal waktu Lafran baru umur 2 tahun.
Untuk menyambung hidup, dia jual karcis bioskop.
Jual es lilin.
Kerja serabutan.
Di Jakarta dia bergaul di kawasan Senen.
Teman seperjuangan di GERINDO, organisasi pemuda pra-kemerdekaan , waktu itu?
seorang anak muda bernama DN Aidit.
Ya. Aidit. orang yang kelak jadi Ketua PKI.
Dua anak muda. latar yang sama.
organisasi yang sama.
tapi berakhir di kutub yang berlawanan.
Aidit → kelak memimpin aksi pembubaran HMI.
Lafran → yang mendirikan HMI.
Sejarah bukan soal takdir.
sejarah soal pilihan ideologi.
1942, Lafran pulang kampung waktu Jepang berkuasa.
Dia difitnah.
Dituduh memberontak terhadap pendudukan Jepang.
Vonisnya: hukuman mati.
dia selamat karena pengaruh besar ayahnya di kampung itu.
setelah bebas, dia langsung balik ke Jakarta.
Lanjut kerja, lanjut belajar, lanjut bergerak.
Orang yang pernah menghadap maut di usia 20an , hidupnya jadi nggak gampang takut setelah itu.
1945 - Indonesia merdeka.
Lafran bukan cuma penonton.
dia ikut terlibat dalam penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok , gerakan pemuda yang memaksa proklamasi dipercepat.
tapi Lafran nggak pernah banyak cerita soal perannya ini.
dia bukan tipe orang yang jual jasa masa lalunya.
5 Februari 1947.
Yogyakarta jadi ibukota darurat Republik.
Perang kemerdekaan masih berlangsung.
Lafran waktu itu baru masuk Sekolah Tinggi Islam (STI) , belum lama jadi mahasiswa di sana.
Dia minta izin ke dosen Tafsir, Husein Yahya:
"Pak, boleh jam kuliah ini saya pakai buat rapat mahasiswa?"
Dosen itu mengizinkan.
jam 16.00 , lahirlah HMI.
Sebelum bikin HMI, Lafran bukan aktivis kemarin sore.
Dia sudah tempa dirinya bertahun-tahun , dari jalanan Senen, proklamasi, sampai pergolakan pemikiran panjang sejak November 1946.
Tapi waktu HMI berdiri?
Dia baru semester awal di STI.
umur 25 tahun.
Di tengah perang kemerdekaan.
dan organisasi itu masih hidup 77 tahun kemudian.
Setelah jadi Ketua Umum pertama HMI ,
7 bulan kemudian, Lafran mundur.
Dia serahkan posisinya ke mahasiswa UGM.
Supaya HMI nggak kelihatan milik STI aja.
Supaya lebih inklusif.
Supaya lebih besar.
Orang yang membangun sesuatu dari nol, lalu dengan sadar melepasnya,
itu bukan kelemahan. itu kejeniusan.
Ini yang paling bikin gue tercengang.
Lafran lahir 5 Februari 1922.
HMI berdiri 5 Februari 1947.
Baca juga: Mahasiswa atau Mahasewa: Otokritik atas Pudarnya Idealisme dan Independensi Gerakan Mahasiswa
Tanggalnya sama persis.
tapi Lafran mengubah tanggal lahirnya secara administratif jadi 12 April 1923.
Alasannya satu:
Supaya HMI tidak identik dengan dirinya.
Dia korbankan identitasnya sendiri demi memastikan organisasinya lebih besar dari orangnya.
Setelah HMI kuat dan dikenal, Lafran punya dua jalan:
(A) masuk politik. pakai jaringan HMI. jadi pejabat. hidup nyaman.
(B) balik ke kampus. jadi dosen. tetap sederhana.
Dia pilih B.
bukan karena nggak bisa milih A.
Tapi karena dia sadar:
Kalau dia masuk politik, HMI jadi kendaraan pribadinya.
Struktur menentukan karakter.
Dia jaga struktur itu.
Lafran jadi Guru Besar Ilmu Tata Negara di IKIP Yogyakarta.
Mengajar juga di UGM, UII, IAIN Sunan Kalijaga.
Tapi tiap hari pergi mengajar naik apa?
Sepeda onthel.
Waktu itu mahasiswanya sudah naik motor.
Bahkan Anies Baswedan, kader HMI waktu itu, sudah punya Vespa merah menyala.
Lafran? tetap kayuh pedal.
Alumni HMI yang sudah jadi orang besar datang ke rumahnya.
Mereka lihat sofa di ruang tamu sudah tua. lapuk. nggak layak.
Mereka mau ganti.
Mereka mampu.
Lafran jawab pelan:
"Sudah tak usah. Sudah cukup."
sofa itu tetap di sana sampai dia meninggal.
Anaknya, Iqbal, pernah cerita:
suatu hari Lafran belanja di warung.
Uangnya kurang.
Si penjual bilang:
"Udah, besok aja Pak bayarnya."
Lafran tetap pulang. tapi begitu sampai rumah, langsung suruh Iqbal balik ke warung bawa uangnya.
"Ayah paling takut korupsi, walaupun kecil jumlahnya."
Orang yang jujur sama warung , itu yang bisa dipercaya.
Lafran Pane : pendiri HMI, Profesor, Pahlawan Nasional , tidak pernah punya rumah pribadi.
Waktu meninggal 25 Januari 1991,
Dia tinggal di perumahan dosen IKIP di kawasan Deresan, Yogyakarta.
Bukan miliknya.
Rumah dinas kampus.
Tapi dari HMI, lahir:
Jusuf Kalla — Wakil Presiden 2 periode.
Akbar Tandjung — Ketua DPR, Ketua Golkar.
Mahfud MD — Ketua MK, Menko Polhukam.
Nurcholish Madjid — pemikir Islam terbesar Indonesia modern.
Jimly Asshiddiqie — Ketua MK pertama.
Yusril Ihza Mahendra — tokoh hukum tata negara.
Mar'ie Muhammad — Menkeu.
Munir — aktivis HAM.
Dan masih puluhan lagi di kursi-kursi penting republik.
Baca juga: Muswil KAHMI Bali: Refleksi Perjalanan dan Pesan untuk Generasi
Ini kontradiksi yang perlu lo renungkan:
Orang yang hidupnya paling sederhana di antara semua tokoh HMI, justru yang melahirkan semua orang besar itu.
Dia nggak punya mobil.
Tapi kadernya jadi menteri dengan mobil dinas dan ajudan.
Dia nggak punya rumah.
Tapi kadernya punya kantor di gedung-gedung negara.
Pertanyaannya bukan: kenapa Lafran nggak kaya?
Pertanyaannya: apa yang membuat kadernya kaya tapi lupa prinsip gurunya?
Lafran wafat 1991.
Gelar Pahlawan Nasional baru datang tahun 2017.
26 tahun setelah dia pergi.
Mahfud MD waktu penganugerahan bilang:
"Kalau beliau masih hidup, mungkin tidak akan mau."
Orang yang benar-benar ikhlas memang begitu.
Penghargaan datang terlambat , karena yang berhak tidak pernah memintanya.
Lafran bukan orang suci sejak lahir.
Nakal, pindah-pindah sekolah, bergaul sama geng jalanan.
Tapi ada satu prinsip yang dia jaga sampai mati:
Jangan jadikan gerakanmu alat untuk dirimu sendiri.
Dia tanam benih.
Dia rawat pohonnya.
Lalu dia pergi, tanpa minta buahnya.
Hari ini banyak orang bikin organisasi, komunitas, gerakan , tapi ujung-ujungnya jadi batu loncatan pribadi.
Lafran sudah buktikan 77 tahun lalu bahwa itu pilihan, bukan takdir.
lo bisa bikin sesuatu yang lebih besar dari dirimu.
Tapi itu butuh satu hal yang langka:
ego yang mau dikubur.
Catatan Redaksi JatimUPdate.id
Tulisan ini tanpa nama penulis dan tanpa judul. (red)
Editor : Redaksi