Kone, Kaledonia Baru, JatimUPdate.id, – Jejak masyarakat Jawa di Kaledonia Baru telah berlangsung selama 130 tahun.
Perjalanan panjang tersebut terus dirawat melalui pelestarian bahasa, seni, tradisi, kuliner hingga nilai-nilai budaya Jawa yang diwariskan kepada generasi penerus.
Baca juga: Indonesia Terkunci di Pinggir Kolam
Semangat menjaga warisan leluhur itu terlihat dalam Journée Culturelle yang digelar Asosiasi Indonesia di Barat Laut Kaledonia Baru atau Association Indonésienne Nord Ouest (AINO) di Koné, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Nouméa.
Selain menjadi ruang untuk mengenang perjalanan leluhur masyarakat Jawa yang datang ke Kaledonia Baru lebih dari satu abad lalu, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat setempat.
Ketua AINO Carl Mahossem dalam kegiatan tersebut mengisahkan sejarah kedatangan masyarakat Jawa ke Kaledonia Baru serta perjalanan kehidupan mereka setelah menetap di wilayah tersebut.
Berbagai unsur budaya Jawa turut diperkenalkan, termasuk bahasa, seni, tradisi, kuliner serta nilai-nilai kehidupan yang masih dipertahankan oleh komunitas keturunan Indonesia.
Salah satu tradisi yang diperkenalkan adalah pemahaman mengenai weton, yang dalam tradisi Jawa berkaitan dengan keselarasan antara manusia, alam dan budaya, termasuk pertimbangan mengenai pemilihan waktu tertentu untuk melaksanakan kegiatan.
Pemaparan tersebut menunjukkan bagaimana sebagian nilai yang dibawa para leluhur dari tanah Jawa masih memiliki ruang dalam kehidupan komunitas Jawa di Kaledonia Baru hingga saat ini.
Menjaga Identitas, Menghormati Tempat Berpijak
Konjen RI Nouméa menyampaikan apresiasi kepada Carl Mahossem bersama seluruh pengurus dan panitia AINO yang dinilai konsisten menjaga warisan budaya leluhur selama bertahun-tahun.
Dalam kesempatan itu, Konjen RI juga mengajak masyarakat untuk terus menghidupkan nilai-nilai budaya yang relevan dalam kehidupan sehari-hari.
Dua filosofi Jawa turut ditekankan, yakni “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” dan “urip iku urup”.
Kedua ungkapan tersebut mengandung pesan tentang pentingnya menghormati lingkungan dan masyarakat tempat seseorang berada, sekaligus berusaha memberikan manfaat bagi sesama.
Nilai tersebut menjadi semakin relevan bagi masyarakat keturunan Jawa di Kaledonia Baru yang telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat setempat selama lebih dari satu abad.
KJRI Promosikan Budaya dan Produk Indonesia
Dukungan KJRI Nouméa dalam kegiatan budaya tersebut tidak hanya melalui kehadiran, tetapi juga diwujudkan dengan pertunjukan seni tari dan musik Indonesia.
KJRI Nouméa juga membuka stan promosi yang memperkenalkan sejumlah produk Indonesia yang telah tersedia di Kaledonia Baru.
Salah satu atraksi yang menarik perhatian pengunjung adalah demonstrasi pengolahan mi instan Indonesia dengan berbagai cara penyajian.
Baca juga: Is Developed Countries Committed to Energy Transition?
Selama ini, sebagian masyarakat setempat lebih mengenal mi instan dengan cara direbus sesuai petunjuk pada kemasan. Dalam kegiatan tersebut, pengunjung diperkenalkan pada sejumlah kreasi penyajian mi instan yang lebih beragam.
Antusiasme pengunjung terlihat ketika mereka menyaksikan proses memasak hingga mencicipi hasil olahan yang disajikan.
Selain promosi budaya dan produk, KJRI Nouméa turut menghadirkan layanan konsuler serta informasi mengenai peluang kerja sama dan pariwisata Indonesia.
Kehadiran berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan Indonesia sekaligus memperkuat hubungan antarmasyarakat Indonesia dan Kaledonia Baru.
Bagi AINO, peringatan 130 tahun keberadaan masyarakat Jawa bukan sekadar mengenang masa lalu. Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa warisan leluhur hanya akan tetap hidup apabila terus dipahami, dipraktikkan dan dikenalkan kepada generasi berikutnya.
Sumber: Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Nouméa
Editor : Redaksi