Catatan MAS AAS

Membaca Alam Sama Dengan Membaca Sastra

Reporter : -
Membaca Alam Sama Dengan Membaca Sastra
alam

Aku membaca alam pada malam ini.

Aku tengok ke atas, ke langit yang tinggi!

Baca Juga: Momentum Itu Diciptakan

Dari rumah ku di Rungkut Surabaya.

Tampak bulan mau tertutup awan, sinarnya berkurang, terangnya hilang.

Itulah laksana tulisan sastra tanpa kata dan kalimat bagiku. Aku harap engkau pun tahu maksudku.

Karya sastra merupakan tulisan paling paripurna menurutku.

Di dalamnya ada rasa, penghayatan, dan juga fakta kehidupan.

Membaca alam layaknya membaca sastra bagiku. Malam ini aku diguyur pengertian, pemaknaan, dan juga pemahaman! Dari semesta.

Aku jadi ingat pada jaman Hindia Belanda dahulu. Ada sekolah AMS (Algemene Middelbare School) yang setara dengan sekolah menengah umum (SMU) jaman sekarang!

Di situ para siswanya diharap membaca buku. Setahun bukan satuan, bahkan puluhan buku. Dan buku sastra juga banyak harus dibaca.

Entah di jaman millenial sekarang menjadi berbeda, masih adakah tradisi itu.

Maka kalau Sukarno, Hatta, Syahrir, dan juga Ali Sastro Amidjoyo. Para founding fathers pada mampu menulis tulisan-tulisan yang hebat bisa menggerakkan anak bangsa di negerinya, ya penulis sangat maklum!

Sebutlah "Di Bawah Bendera Revolusi" pahatan Bung Karno. Lalu Bung Hatta menulis pledoi terkenalnya "Indonesia Vrij" Indonesia Merdeka!

Membaca sastra membuat asupan batin yang begitu mendalam kepada seorang penulis.

Seorang penulis ketika membaca sastra tidak sekadar ia tahu, paham, arti kata dan arti kalimat dan jalannya sebuah cerita.

Tapi si pembaca itu sedang dimotivasi melakukan sesuatu yang besar di dalam hidupnya!

Demikian juga yang penulis kira terjadi pada para founding fathers itu.

Apabila mereka hanya membaca tulisan non fiksi saja. Mungkin seorang Sukarno hanya akan jadi ahli manajemen dan berbicara! Dan seorang Hatta akan berhenti menjadi ahli ekonomi saja.

Baca Juga: Seorang Pemimpin Sejati bukanlah Pencari Konsesus: Ia Pembentuk Konsesus

Tak mungkin menjadi proklamator RI. Dwi tunggal: Sukarno Hatta!

Dan dari membaca sastra pula seorang Syahrir memantapkan hidupnya untuk berjuang.

Meski acap kali perjuangannya dianggap absurd, dikerdilkan, dikucilkan oleh jaman yang sudah ia bangun dan besarkan!

Tap ia sebagai seorang pejuang tak surut langkah dan maju terus. Membela keyakinan hidupnya.

Biarlah anak jaman dikemudian hari akan mengenangnya!

"Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan," begitu Kredo sang Bung kecil!

Dan kaki langit itu semakin temaram lalu benar-benar sang bulan menghilang dari orbit, langit hanya tampak gelap saja!

Namun, sesekali kerlip bintang itu hadir satu dua di sisi langit yang lain.

Mereka bertugas penuh jalan kan peran sucinya. Juga para founding fathers tersebut. Di masa itu!

Baca Juga: Masjid yang Viral di Surabaya: Karena Melayani Kebutuhan Seluruh Umat

Hanya berbekal dengan membaca tulisan sastra. Aku malam ini bisa melihat sesuatu yang berada di langit, memang berharga. Dan layak aku baca huruf-hurufnya satu demi satu.

Sehingga otak ku baik secara kognitif, afektif, dan juga psikomotorik, hidup semua!

Lalu apakah membaca sastra apakah sama dengan membaca alam raya. Mungkin saja begitu adanya.

Karena ada tuntutan kepada pembacanya untuk menghidupkan semua panca indera nya. Tanpanya hanya sebuah rutinitas semata. Hanya melelahkan kedua mata saja.

Ada bulan di langit, lalu tertutup awan, lalu menghilang! Begitu saja tidak lebih.

Tetapi para founding fathers itu tidak mengajarkan demikian.

Berpikir lah lagi, membaca lah lagi, lalu menulis lah lagi!

Itulah cara berbakti kepada negeri mu tercinta!


AAS, 01 April 2023
Emper Ngomah Rungkut Surabaya

Editor : Wahyu Lazuardi