Catatan Mas AAS

Tidak Semua Baut Akan Cocok Dengan Mur!

Reporter : -
Tidak Semua Baut Akan Cocok Dengan Mur!
Mas AAS

Hidup di kota pahlawan Surabaya. Telah banyak memberikan warna.

Warna hitam. Warna putih. Warna pelangi. Sepertinya sudah pernah memulas mewarnai hidupku.

Baca Juga: Momentum Itu Diciptakan

Sehingga kehidupan sehari-hari faktanya memang tidak hitam dan putih saja. Juga latar kehidupan dari orang-orangnya.

Melebur, membaur dengan mereka. Mengantarkan diri ini menemukan ruang-ruang spiritual dan religiositas yang begitu dalam maknanya.

Ini tentang sebuah kisah. Cerita tentang seorang pemulung. Tak jarang aku berjumpa dengan nya: berbagi rokok, sekadar tanya tinggal di mana, lalu obrolan guyon maton parikeno pun terjadi.

Pemulung bekerja sejak pagi buta, sampai matahari terbenam. Seharian penuh ia berkeliling: rumah dan jalan raya. Mencari benda apapun yang sekiranya bisa di kilo kan: rongsokan besi, ember, semuanya. Yang ia masukkan ke dalam karung yang ia siapkan dari rumah.

Lalu ia bawa ke pengepul dan pada suatu ketika obrolan pun terjadi. Antara saya dengan pemulung tersebut. "Sedino entuk duit piro Jek, anggon mu kerjo dadi pemulung?" "Yo ora mesti Mas Andi, kadang 40 ribu, kadang 50 ribu," ujarnya.

Rata-rata setiap harinya ia si pemulung tersebut mendapatkan uang sekira 40-50 ribu. Dalam obrolan santai saat penulis bertemu dengan pemulung tersebut: "Kalau tidak bekerja, aku tidak bisa makan, Mas Andi!"

Orang yang harus bekerja seharian demi mendapat 40-50 per hari---seperti pemulung tadi---pasti tidak cocok berteman dengan orang yang penghasilannya, semisal 1 juta per hari. Kenapa? Karena biasanya yang berpenghasilan 1 juta per hari hidupnya lebih santai, hidupnya jadi mager malas gerak, upps!

Baca Juga: Gandeng Kejaksaan, BPJS Kesehatan Bakal Periksa 100 Badan Usaha Yang Menunggak Iuran JKN

Orang yang punya penghasilan 1 juta per hari, mungkin akan bisa ngoceh: "Kerja tidak usah ngoyo," atau, "Rejeki sudah ada yang ngatur," atau,"Hidup harus dinikmati!" Dan kata-kata indah lainya. Kalimat seperti itu mungkin saja memang relevan bagi dia, tidak bagi seorang pemulung.

Kalau orang yang berpenghasilan 1 juta per hari, boleh jadi bisa pilih libur semaunya. Dan masih saja bisa hidup. Tapi bagi orang yang penghasilannya 40 ribu per hari, bekerja bukan lagi sebuah kebutuhan atau kewajiban, namun sudah perjuangan mempertahankan hidup, yang mau tidak mau, suka tidak suka harus dilakukan.

Latar hidup yang demikian boleh jadi membuat pemulung lebih suka hidup dan berteman juga dengan sesama pemulung. Daripada misalnya berteman dengan Bos rental mobil.

Kalau pemulung berteman dengan si bos rental mobil hidupnya akan tertekan, tiap hari tiap waktu di ajak cangkruk. "Kapan kerjo ku bos!"

Baca Juga: Seorang Pemimpin Sejati bukanlah Pencari Konsesus: Ia Pembentuk Konsesus

Bagi bos rental mobil cangkruk adalah bekerja, cari relasi, cari cuan! Bagi pemulung artinya menyia-nyiakan waktunya yang berharga, untuk bekerja.

Ilustrasi di atas. Meski tidak bisa benar seratus prosen. Kadang manusia itu memang dibentuk jalan hidupnya oleh: lingkungan dan pergaulan. Dan tidak semua baut akan cocok dengan mur, apabila dipaksakan akan menimbulkan masalah.

Selamat pagi, selamat menikmati momen weekend Anda...

AAS, 27 Januari 2024
Emper Rumah Rungkut Surabaya

Editor : Nasirudin