Oleh: Himawan Bayu Patriadi, PhD.,*

Pak Umaidi Radi dalam Obituari

Reporter : -
Pak Umaidi Radi dalam Obituari
Almarhum Drs. H. Umaidi Radi, MA.

Sore menjelang petang, dalam sebuah WAG, sepotong berita duka datang. Bapak Drs. H. Umaidi Radi, MA., yang akrab dipanggil “Pak Um”, telah berpulang ke Rahmatullah. Spontan, saya meresponnya dengan iringan doa. Namun, sampai sekian waktu; bayangan sosoknya tetap memburu. Dalam hati, saya sempat bertanya: “Ada apa dengan Pak Umaidi?”. Setelah termenung sejenak, misteri itu terkuak. Ternyata, sepenggal kiprahnya terpahat dalam benak.

Sebagai dosen, saya berkesempatan mengajar bersama Pak Um di Jurusan Hubungan Internasional (HI), Universitas Jember (UNEJ). Dalam kariernya, beliau pernah menjabat Ketua Jurusan HI dan Pembantu Dekan 1, FISIP – UNEJ. Di organisasi profesi, beliau pernah tercatat sebagai anggota Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) cabang Jember. Dari sisi angkatan dosen, saya tiga generasi di bawahnya. Tapi, saya bukanlah muridnya, melainkan hanya seorang pendatang yang bergabung ke dalam entitasnya di Jurusan HI. Jadi, sebagian besar interaksi saya dengannya sebatas kolega. Tapi, kesan terasa mendalam.

Awal perjumpaan justru lewat tulisan. Itupun, berkat kabar dari seorang kawan. Ketika masih menjadi mahasiswa tingkat sarjana di Jurusan Hubungan Internasional, FISIPOL - Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta; kawan kuliah itu tertarik pada kekuatan politik Islam di Indonesia. Tak pelak, buku Pak Um, bertajuk “Strategi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) semasa 1973-1982: Suatu Studi tentang Kekuatan Politik Islam Tingkat Nasional” (1984), menjadi salah satu rujukannya. Bahkan, kawan tersebut menyempatkan diri bertandang ke Jember guna menemuinya. Tujuan utamanya, melakukan wawancara. Kala itu, dari sudut pandang Yogya; Jember adalah “pelosok”. Namun, buku karya Pak Um itu membuktikan bahwa di “pelosok” ada juga sebuah “sosok”.

Baca Juga: Sikapi Pemilu  2024 di Jember Berantakan, Kowaslu Mosi Tidak Percaya KPU dan  Bawaslu

Baik teks maupun konteks telah menyulut motivasi sang kawan untuk melakukan wawancara dengan Pak Um. Dari segi teks, bukunya di atas merupakan karya ilmiah, karena diangkat dari thesis Master of Arts (MA)-nya di Universitas Indonesia. Sementara itu, dari sisi konteks, buku tersebut juga menyita atensinya; karena mengkaji strategi PPP yang pada masa itu merupakan simbol kekuatan oposisi. Apalagi, di bawah represi politik Orde Baru; pada pemilu 1977 partai Islam ini masih mampu mengalahkan perolehan suara Golkar di DKI Jakarta, meskipun kemudian kalah pada pemilu berikutnya.

Perjumpaan berikutnya terjadi di awal 1990-an. Kala masuk sebagai dosen di Jurusan HI - UNEJ, saya baru mengenalnya secara pribadi. Namun, dalam waktu singkat, perjumpaan personal menimbulkan kesan yang kental. Pak Um, ternyata, merupakan sosok yang ekspresif, lugas, bahkan kadang vulgar, dalam ekspresi lisan. Tak jarang, guyonan-nya muncul dalam bentuk satire. Saya maklum kemudian. Apalagi, setelah tahu bahwa beliau bukan sosok Jawa, tetapi orang Sumatra Selatan. Namun, bagi yang tak faham, ungkapan lisannya bisa mengundang salah penilaian.

Ketika membayangkan kiprahnya dalam institusi, khususnya di Jurusan HI - UNEJ; saya mencoba meracik yang terserak dalam memori. Secara imajinatif, saya memakai sebuah metafora. Jika Jurusan HI bak sebuah lukisan hasil karya kolektif, maka pertanyaannya: “Goresan kuas apa yang telah ditorehkan Pak Um dalam lukisan kanvas itu?”. Dalam menjawabnya, saya berusaha menghindari presentism (menilai masa lampau dengan ukuran masa kini). Alasannya sederhana, saya sekedar berupaya untuk memberikan penilaian yang relatif adil.

Kala mengiringi pemakamannya, tersembul sebuah inspirasi. Saat berpikir untuk memposisikan sosok Pak Um dalam lukisan kanvas di atas, mendadak teringat artikel Alberta Adamson tentang urgensi sebuah visi. Penggalan tulisannya: “Think of how much history has been recorded and preserved because of the work of the small local history agencies … your institution is here today because someone cared about the past to preserve it for the future”. (Pikirkan berapa banyak sejarah yang telah tercatat dan dilestarikan berkat hasil karya berbagai agensi lokal yang kecil … institusi-mu yang eksis hari ini tak lepas dari kepedulian seseorang pada masa lalu guna menyongsong masa depan).

Terinspirasi narasi di atas, saya membayangkan sosok Pak Um bagian dari “the small local [human] agencies”. Sebagai dosen sekaligus merangkap Ketua Jurusan kala itu, kepeduliannya terhadap masa depan institusi begitu tinggi. Sekian kali, beliau menggarisbawahi pentingnya investasi sumberdaya manusia. Tak jarang, urgensi ini diungkapkannya secara vulgar. Salah satunya, berulang kali beliau berujar: “Saya ini orang bodoh, penerus saya harus lebih baik dari saya!”. Terlepas dari ekspresinya yang vulgar, sebenarnya ungkapannya ini adalah refleksi sepotong visi. Memang tak bisa dipungkiri, narasi seperti ini tak se- apik rumusan visi institusi. Tapi, berbagai ekspresinya mencerminkan harapan yang tinggi terhadap masa depan Jurusan HI - UNEJ.

Baca Juga: Korps Musik Sat Pol PP Praja Wibawa Abirama Jatim Iringi Upacara HUT Sat Pol PP ke-74

Tapi, yang menarik, Pak Umaidi tak terpasung dalam mimpi. Beliau justru mengubah mimpi menjadi “ideologi”. Pada saat banyak orang masih terjerembab dalam kubangan inward-looking, beliau sudah menapak tataran outward-looking. Selain tak jemu melecut para juniornya untuk berupaya meraih pendidikan yang lebih tinggi, dengan prioritas di perguruan tinggi luar negeri; beliau juga selalu tak segan melakukan talent scouting dosen di universitas lain. Di tingkat fakultas, misalnya, Pak Um sempat menyurati beberapa kenalannya di FISIPOL - UGM guna mendapatkan apa yang beliau harapkan. Walhasil, datanglah Pak Bustami Rahman (Profesor) yang akhirnya mau bergabung ke Jurusan Kesejahteraan Sosial (KS), FISIP – UNEJ. Pada dasawarsa 1970-an dan 1980-an, guna meningkatkan kualitas perkuliahan; Pak Um juga berhasil membujuk beberapa dosen Jurusan HI – UGM untuk bersedia membantu mengajar di Jurusan HI - UNEJ. Mereka, di antaranya, adalah Pak Amien Rais (Profesor) dan Pak Mohtar Mas’oed (Profesor). Di era kini, inisiatif pribadi Pak Um ini mirip program pencangkokan untuk mengakselerasi mutu Jurusan HI. Kala mengenang kisah ini, Pak Mohtar Mas’oed sempat berbagi cerita: “Kala itu, sebagai dosen muda, saya menikmati naik kereta api Jember-Yogya PP dengan riang gembira”.

Dari sekian upayanya, salah satu hasil yang paling membahagiakan Pak Um adalah ketika muridnya mampu menembus program doktoral di manca negara. Kala mengabarkan keberhasilan salah satu muridnya, Bung Agus Trihartono (PhD), meraih beasiswa untuk program doktoral di Ritsumeikan University, Kyoto, Jepang; saya sempat terpana. Pasalnya, saat menerima kabar itu, Pak Um terlonjak. Sambil menggebrak meja, beliau berkata: “Ini baru berita, ini yang saya impikan sejak lama!”. Dengan sekian ilustrasi kiprahnya, saya tercenung. Ternyata, dahulu, Pak Um telah berbuat sekaligus melaksanakan, setidaknya sebagian, dari apa yang kini telah menjadi slogan Universitas Jember: “Nurturing the Future!”. Bahkan, dalam perjalanan Jurusan HI – UNEJ hingga saat ini, jejaknya bisa diidentifikasi. Jika kita mau mengoreknya dalam satu kontinum histori, suksesnya Jurusan HI dalam meraih akreditasi internasional, saya yakin, sedikit banyak ada kontribusi dari investasi Pak Umaidi Radi di masa lalu.

Selamat jalan Pak Um! Semoga kiprah dalam institusi berkah, dan dicatat Ilaahi Rabbii sebagai amal jariyah. Aamiin!

Baca Juga: Baru Dikubur Makam Nenek Tiah di Jember Dibongkar

 

*Himawan Bayu Patriadi, PhD., Dosen Hubungan Internasional, Universitas Jember

Editor : Yuris P Hidayat