Catatan Mas AAS

Mencari Informasi

Reporter : -
Mencari Informasi
Mas AAS

Golek Sisik Melik!
(Mencari Informasi)

Duduk saat pagi di emper omah: Rungkut Surabaya! Sembari ngelaras gending-gending Jawa klasik yang ditembangkan oleh Nyi Condrolukito.
Sahdu nya tiada terkira, tidak cukup bahasa digunakan untuk menggambar sebuah rasa yang ditimbulkan sesaat mendengar Gending tersebut: tembang-tembang palaran dengan cengkok pelog nya yang melengking tinggi, khas suara Nyi Condrolukito!

Baca Juga: Seorang Pemimpin Sejati bukanlah Pencari Konsesus: Ia Pembentuk Konsesus

Kemudian semesta seakan mengajak penulis untuk menelusuri artefak purba, bagaimana serat-serat lawas dipahat oleh sang maestro tiada tanding, para penulis agung dari Bumi Nusantara ini, antara lain: Mpu Kanwa. Berlatar Kerajaan Kediri di masa Raja Airlangga. Lalu Mpu Tantular berlatar Kerajaan Majapahit di masa Raja Hayam Wuruk!

Mpu Kanwa, adalah seorang sastrawan dan pujangga Kraton Kahuripan pada masa pemerintahan raja Airlangga. Karya-karya Mpu Kanwa antara lain Kakawin Arjunawiwaha termasuk karya sastra persembahan kepada Raja Airlangga yang telah sukses berjuang memulihkan stabilitas keamanan Negeri Medang! Kakawin ini ditulisnya pada masa pemerintahan prabu Airlangga antara tahun 1028-1035. Serat Wiwaha Jarwa, Lakon Begawan Mintaraga dan Lampahan Begawan Ciptowening adalah cerita yang diuraikan dari Kakawin Arjunawiwaha. (Wikipedia diakses 8/5).

Mpu Tantular, sang penakluk kata dan kalimat selanjutnya. Namanya begitu masyhur bagi Bumi Pertiwi. Seorang sastrawan pilih tanding dari Kerajaan Majapahit, begitu epik karya beliau: "Kakawin Sutosoma". Bahkan salah satu bait dari Kakawin Sutosoma diambil menjadi motto dan semboyan Republik Indonesia: Bhinneka Tunggal Ika berbeda-beda namun satu jua!

Tidak ada yang kebetulan di dalam hidup ini. Pagi yang sama hari ini, setelah bertekun dalam waktu cukup lama mencintai dunia menulis memahat huruf. Akhirnya digerakkan juga untuk nguri-uri belajar menulis kepada para leluhur, bagaimana para Eyang-Eyang yang telah purna perihal bausastra dalam mengolah kata, kalimat, yang penuh makna dan spirit agung bagi negerinya. Macam Mpu Kanwa dan Mpu Tantular di atas. Kembali lagi penulis mengatakan: semesta menuntun penulis untuk mengunjungi, sembah sungkem kepada para sastrawan agung Bumi Nusantara tersebut! Dari mereka lah, bagaimana menulis menggunakan hati dan sepenuh jiwa sudah dilakukan saat mencipta, memahat, dan menulis karya-karyanya. Pada masa lalu sebelum dunia internet itu ada apalagi aplikasi WhatsApp! Sarana penulis menulis setiap harinya.

Setelah pergi ke luar terlalu jauh mengenal, membaca, karya penulis hebat dari luar, macam: Paulo Coelho, Stephen King, Edgar Allan Poe, dan J.K Rowling. Akhirnya darimana kita berasal akan rindu dan memeluk karya asli dari Bumi Nusantara ini. Dan kejadian nyata itu, menghampiri penulis pagi ini di emper rumah. Kemudahan akses di era millenial sekarang memungkinkan untuk mengintip bagaimana para Eyang yang bijaksana di atas, dalam merangkai aksara untuk digubah selain sebagai sebuah informasi kepada khalayak pembaca di eranya, juga diharapkan menjadi pusaka bagi generasi sesudahnya. Kesadaran itu sedemikian besar didapatkan oleh penulis pada pagi ini tadi!

Baca Juga: Masjid yang Viral di Surabaya: Karena Melayani Kebutuhan Seluruh Umat

Belajar berbagai konsep ilmu kehidupan dan ilmu kepemimpinan, bahkan ilmu manajemen. Bagaimana seharusnya seorang Raja mengelola sebuah negeri, begitu detail diuraikan dalam sebuah kalimat-kalimat yang sedemikian nyastro kalau merujuk prokem pembaca sastra saat bertemu tulisan dan buku yang dibuat dengan kalimat yang begitu sangat kuat juga efektif bunyinya, di jaman millenial sekarang.

Siapa yang akan melestarikan budaya asli yang di miliki oleh Bumi Nusantara ini. Bila tidak oleh anak-anak bangsanya sendiri, yang hidup, mencari rejeki penghidupan, lalu di kemudian hari akan kondur pulang kembali kepada Gusti!

Oleh karenanya jangan terlalu lama kawan di bumi orang, pulang lah! Baik buruknya negeri ini kita perbaiki bersama, jangan pasrahkan sama tetangga dekat, apalagi tetangga yang jauh, rada mustahil berhasil merawat jati diri bangsa besar ini!

Baca Juga: Hargai Semua yang Anda Miliki

Begitu.

Rahayu


AAS, 08 Mei 2024
Emper Omah Rungkut Surabaya

Editor : Nasirudin