Fenomena DKS "Transformasi Kesenian Ke Kebudayaan" yang Kebablasan, Jadinya Malah Kemunduran Fisik
JatimUPdate.id - Sekarang sedang ramai, bahkan para seniman, budayawan akan tuplek blek demo di plataran Taman kota yang dikenal dengan kompleks Balpem ( Balai Pemuda ).
Dan iya, banyak yang ngaku mau renaissance atau postmodern tapi hasilnya zonk.
1. Kenapa dibilang "kemunduran fisik"?
Karena yang ditransformasi cuma kulitnya, bukan ruhnya.
Contoh kasus
- Wayang Maunya renaissance bikin wayang 3D, metaverse, hologram. Tapi dalangnya nggak ngerti pakem, suluk ngawur, cerita lakon dikorbanin demi visual. Hasil Fisiknya canggih, tapi wayangnya "mati". Penonton cuma bilang "keren efeknya" lalu pulang. Nggak ada tuntunannya.
- Contoh Shalawat NU Maunya postmodern dikasih beat EDM, video clip aesthetic, vokalis joget. Tapi _mahabbahnya hilang. Shalawat jadi konten FYP, bukan riyadhoh. Yang dikejar views, bukan barokah, Fisiknya gegap gempita, tapi batinnya kopong.
Itu yang saya sebut kemunduran fisik Gedung megah tapi jamaahnya sepi. Kostum mahal tapi geraknya hampa. Teknologi canggih tapi makna purba hilang.
2. Kenapa "Renaissance" mereka gagal?
Renaissance Eropa itu lahir karena 3 hal:
1. Gali ulang teks klasik, baca ulang Plato, Aristoteles
2. Humanisme, manusia jadi pusat, tapi tetap nyambung ke Tuhan
3. Skill mumpuni, Michelangelo paham anatomi dulu baru bikin David.
Lha yang kejadian di sini:
1. Nggak ngaji pakem dulu, langsung rombak. Dalang belum khatam Serat Sastra Gendhing udah bikin wayang cyberpunk.
2. Humanisme kebablasan "seni untuk seni", "yang penting ekspresi gue". Lepas dari nilai dan tuntunan
Jadinya bukan renaissance, tapi dekadensi.
3. Skill setengah-setengah Editing keren, tapi tembang fals. Efek visual 8K, tapi wirama amburadul.
Renaissance tanpa disiplin = cuma kosmetik.
3. Kenapa "Post-modern" jadi salah kaprah?
Post-modern aslinya: meragukan narasi besar, campur-campur gaya, meledek kemapanan. Tapi tetap ada
kedalaman dan konteks.
Yang kejadian di sini:
1. Campur aduk tanpa ilmu Dikira post-mod itu "bebas aja". Al-Quran dicampur DJ, tari sufi dikasih lampu disko, alasannya "mendobrak pakem". Padahal post mod butuh literasi dulu baru bisa mendobrak.
2. Relativisme kebablasan "Semua seni sama baiknya". Nggak ada standar. Akhirnya yang viral = yang paling heboh, bukan yang paling dalam.
3. Ironi tanpa solusi cuma bisa nyindir, nggak bisa nuntun. Kritik sosial iya, tapi tawaran nilainya nol.
Akhirnya post-modern jadi tameng buat kemalasan intelektual. "Ini kan seni post-mod, suka-suka gue dong".
Jadi transformasi yang bener kayak apa?
Balik ke kaidah NU tadi: _Al-muhafazatu 'ala al-qadim al-shalih...
1. Muhafazah dulu: Kuasai pakemnya. Santri mau aransemen shalawat? Khatamin dulu _kitab Al-Barzanji. Dalang mau bikin wayang metaverse? Kuasai dulu sanggit dan sabda.
2. Baru Akhdzu bil jadid: Setelah ruh-nya kuat, baru fisiknya boleh berubah. Kayak Gus Dur pakai sarung tapi ngomong demokrasi. Isinya dijaga, wadahnya
boleh baru. Kalau kebalik wadah baru isi kosong = kemunduran fisik.
DKS (Dewan Kesenian Surabaya )Dan isu “DKS akan ditransformasi ke kebudayaan” ini memang lagi rame di Surabaya.
Kalau kerangka “kemunduran fisik” yang saya bilang tadi, begini kaitannya:
1. Apa yang sebenarnya terjadi di DKS?
DKS selama ini fokus di kesenian: teater, musik, sastra, tari, film. Tugasnya ngurusi seniman, fasilitasi pementasan, kritik seni. tencana “ditransformasi ke kebudayaan” .DKS dilebur/diubah jadi lembaga kebudayaan yang lebih luas. Nggak cuma seni pertunjukan, tapi juga: cagar budaya, tradisi, kuliner, bahasa, museum, komunitas adat, sampai industri kreatif. Di atas kertas alasannya biar nggak sektoral, biar holistik, biar nyambung RPJMD.
2. Di mana potensi "kemunduran fisik"
Ini yang dikhawatirkan banyak seniman Surabaya dan nyambung sama apa yang saya maksud tadi. Maunya: Renaissance Kebudayaan Jatuhnya: Kemunduran Fisik, Visi Kebudayaan jadi lokomotif. Seni, tradisi, cagar budaya dikelola satu atap biar kuat. Realitanya kebudayaan jadi terlalu luas. Anggaran & perhatian ke
seniman malah ketarik buat urus festival kuliner, branding wisata, seremonial dinas
Visi DKS naik kelas, nggak cuma event tapi bikin ekosistem. Realitasnya DKS kehilangan fokus. Dari rumah seniman jadi EO Pemkot. Fisiknya: kantor baru, struktur baru, tapi seniman teater tetep nggak punya panggung layak
Visi Post modern = kolaborasi lintas sektor. Seniman kerja bareng budayawan, arkeolog, UMKM. Realitasnya Salah kaprah = semua dicampur tanpa kurator. “Festival Kebudayaan” isinya lomba masak + dangdut + pameran batik. Dalang & penulis naskah terpinggirkan karena nggak “instagramable”
Intinya Kalau “transformasi ke kebudayaan” cuma ganti papan nama, nambah bidang kerjaan tanpa paham ruh kesenian, ya jadinya kemunduran fisik. Gedungnya keren, nomenklaturnya keren, tapi senimannya makin nggak punya rumah.
3. Kenapa renaissance-nya rawan gagal?
Balik ke 3 syarat renaissance:
1. Gali ulang pakem DKS,harusnya ngaji dulu “Seni Surabaya itu apa?” Ludruk, remo, parikan, sastra urban, arek culture. Kalau nggak paham akar, transformasi = tercerabut.
2. Humanisme + nilai: Kebudayaan bukan cuma jualan Sparkling Surabaya. Ada nilai arek, egaliter, melawan.
Kalau isinya cuma city branding, ya kosong.
3. Skill mumpuni: Pengurus lembaga kebudayaan nggak bisa cuma PNS administratif. Butuh kurator, kritikus, budayawan yang paham medan. Kalau nggak, ya cuma jadi panitia 17-an versi gede.
Selama 3 ini nggak ada, “transformasi” cuma ganti baju. Renaissance gagal.
4. Biar nggak jadi post-mod yang salah kaprah
Post-mod beneran = “DKS jadi ruang tarung gagasan”. Ludruk boleh ketemu seni instalasi. Cak Durasim boleh dikaji pakai teori Deleuze. Tapi ada kurasinya, ada debatnya.
Salah kaprah “Semua budaya masuk, yang penting rame”. Akhirnya rebutan anggaran. Teater nggak kebagian karena kalah sama festival kuliner yang KPInya lebih gampang: jumlah pengunjung.
Kesimpulan pahitnya
Kalau DKS ditransformasi ke kebudayaan tanpa menjaga “rumah seniman” sebagai jantungnya, maka itu persis “kemunduran fisik” yang saya maksud.
Fisiknya: Lembaga lebih gede, program lebih banyak, foto-foto lebih keren.
Ruhnya: Seniman Surabaya tetap ngemis ruang ekspresi, kesenian kritis mati, yang hidup cuma seni seremonial.
Solusi biar nggak gagal:
1. Muhafazah: Jaga DKS sebagai “rumah seniman”. Ada dewan juri independen, ada dana abadi seni, ada panggung gratis buat komunitas.
2. Akhdzu bil jadid: Baru mekar ke kebudayaan: urus cagar budaya, arsip, tradisi lisan. Tapi jangan sampai seniman jadi tamu di rumahnya sendiri.
Jadi tolong kepada pemangku kebijakan dikaji lagi tentang DKS transformasi ke kebudayaan jangan hanya dianggap keren tapi dampak minusnya lebih dipertimbangkan dari pada nanti terjadi chaos peradaban. (*)
Editor : Redaksi