Catatan Mas AAS

Sinoman

Reporter : -
Sinoman
Mas AAS

Suara musik DANG DUT bertalu-talu dengan volume melengking tinggi. Suara gendangnya yang khas mampu membuat tubuh-tubuh manusia yang duduk jegrang di warung kopi, bergoyang ke kanan dan ke kiri ikuti irama musiknya.

Memang irama alat musik gendang dan ketipung dengan suaranya yang meliuk-liuk bak ular kobra. Mampu mematuk akal kewarasan para dia hard dari ketiga Paslon Capres di warung kopi ini khususnya dan di grup WhatsApp bisa jadi. Musik Dangdut telah menjadi penyatu seluruh aliran dalam semua aspek kehidupan bagi semua anak bangsa di negeri tercinta. Kaum borjuis, dan kaum marginal bisa menyatu bergandengan tangan. Lagu Dangdut goyang ngebor bisa mengebor otak yang beku para pendukung fanatik capres, "Rek goyang dulu, ojo gontok-gontokan wae, ning grup!" Sepertinya spirit dalam musik sejuta umat ini, mengajak ke sana, yakin penulis.

Baca Juga: Momentum Itu Diciptakan

Umbul-umbul berkibar berjejer di depan sebuah gedung besar, tak lupa janur kuning melengkung di depan gedung. Tertulis gedung pertemuan sebuah Balai RW.

"Ada pernikahan to pak? Atau ada kampanye caleg? Atau malah ada pesan-pesan perjuangan dari para relawan untuk memilih pasangan calon presiden dan wakil presiden tertentu?" Tanya ku menyelidik kepada seorang pelanggan yang sama-sama sedang menyeruput kopi dengan ku pagi ini di warkop yang sama!

Aku duduk sudah begitu rada lama, di warung kopi langganan ini. Sembari tunggu istri yang sedang belanja ke dalam Pasar Soponyono, Rungkut, Surabaya. Sambil berpikir keras, apa yang harus aku tulis. Dan kedua jempol itu bergerak sendiri memilih huruf-huruf nya di papan keypard smartphone.

Duduk diam, sambil melihat para pelapak gelar dagangannya, antara lain: baju, gorengan, buah-buahan, dan melihat hilir mudik para pejalan yang hendak masuk ke dalam pasar. Dan para bapak-bapak tua sedang membincangkan kelangenan mereka, merawat burung murai nya. Di warkop yang sama denganku.

Meski begitu tetap saja core pembicaraannya seputar capres: "Jangan pilih capres itu, lebih baik pilih capres ini, atau dia! Dijamin negeri ini bahkan aman, sejahtera. Sambil suara lagu berjudul "Kalau Ingin Melihat Ikan" tunggu airnya sebening kaca terdengar menghentak, dari gedung sebelah!"

Serta jalan sempit di depan Pasar Soponyono itu semakin padat merayap, karena pengunjung pasar semakin ramai. Para emak-emak rempong lewat di depan warkop. Dan mulai bapak-bapak tua dan pemuda setengah baya, di dalam warung, pada menjadi juri independen menilai cara berjalan mama muda yang pada barusan lewat tersebut.

Layaknya melihat pertunjukan fashion show di panggung catwalk memamerkan busana rumah yang dikenakannya: daster!

Baca Juga: Seorang Pemimpin Sejati bukanlah Pencari Konsesus: Ia Pembentuk Konsesus

Dan saat diriku ingin mendokumentasikan narasi kehidupan kaum urban di kota metropolitan pagi ini, agak kesulitan juga. Memulai memahat hurufnya dari mana: masak dari soal daster baju yang dikenakan para wanita tersebut!

Menulis apa adanya dengan segala kejenakaan yang terjadi. Lalu mencermati para pengunjung warkop yang berbicara banyak hal. Dan perpindahan topik obrolan yang begitu random terjadi: tadi perihal capres, caleg, dangdut koplo, manuk ocehan. Dan spontan kemudian secara auto membahas jenis baju yang sedianya harus dikenakan saat keluar ke rumah oleh para Mahmud (mama muda). Meski hanya ke Pasar, janganlah memakai baju daster kedodoran yang bikin Pemuda Indra, Pak Karto, dan Mbah Marmo, berteriak histeris! Mendapat tontonan berupa keindahan gratis yang terjadi.

Sepertinya memang sedang ada hajatan pernikahan beneran. Para sinoman dengan seragam khasnya, mulai keluar dari sisi pintu samping Gedung Balai RW, bawa nampan di atasnya lengkap dengan gelas minuman teh ginastel untuk para tamu yang mulai hadir satu persatu ke TKP. Serta Gending gamelan Kebo Giro mulai terdengar mengalun dengan magis nya, dan beberapa orang yang duduk di dalam warkop berteriak: "Iku manten e teko!" Jadi kelingan dengan kampung halaman saja, Klaten.

Meski saja masih katrem duduk diam di dalam warkop ini. Karena melihat geliat kehidupan nyata para perantau sehari-hari. Dengan segala pernak-pernik nya adalah penghiburan jiwa yang begitu menyehatkan!

Ada banyak kejadian yang bisa dituturkan dalam sebuah narasi tulisan yang sederhana.

Baca Juga: Masjid yang Viral di Surabaya: Karena Melayani Kebutuhan Seluruh Umat

Terlalu lama duduk diam di warung kopi ini juga tidak baik, kegiatan lain sudah menanti di rumah. Dan orang rumah dari kejauhan, juga sudah kelihatan bawa keranjang lawas nya yang sudah penuh belanjaan.

Setiap pagi selalu menjumpai hari yang baru. Tentu juga kehidupan baru yang senantiasa ditunjukkan oleh setiap warga di kota metropolitan Surabaya ini. Yang siap untuk ditulis, bukankah tugas penulis ya menulis? Menulis apa saja yang mampu menggerakkan emosi serta kedua jempol jemari ini memahat tulisan di layar hape.

Demikian.


AAS, 28 Januari 2024
Warkop Pasar Soponyono Rungkut Surabaya

Editor : Nasirudin